Aktivis Mahasiwa dan LSM Kawal Warga Tambakrejo

SEMARANG (Asatu.id) – Aktivis mahasiswa dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Kota Semarang menolak tegas penggusuran warga Tambakrejo oleh Pemerintah Kota Semarang, berkaitan dengan proyek normalisasi Banjir Kanal Timur.

“Ini kan lucu, masa nelayan jauh dari laut. Terus mereka harus alih profesi, kan tidak adil,” ucap Arga Yuda , koordinator  aktivis mahasiswa dan LSM, di Semarang, Jumat (23/2).

Rencana pemerintah melakukan normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) memang memunculkan penolakan dari beberpa pihak. Salah satunya dari aktivis mahasiswa dan LSM, yang Kamis (22/2) menyelenggarakan aksi Kamisan dengan orasi dan teatrikal di halaman Gedung Gubernur.

Menurut Arga Yuda, rencana relokasi warga tergusur tidak masuk akal karena menjauhkan nelayan dari laut. Beberapa fasilitas publik juga terancam seperti TPQ, mushola dan tambak-tambak rakyat. Penggusuran tersebut dirasa melanggar pasal 28 UUD  1995 dan UU 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan prinsip pembangunan yang memperhatikan hak masyarakat terdampak.

“Ke depan, kami akan terus mengawal dan bersolidaritas kepada warga Tambakrejo,” tegas Yuda. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *