Tingkatkan Kearifan Lokal melalui Kampung Tematik

SEMARANG (Asatu.id) – Program Kampung Tematik yang telah berjalan sejak tahun 2016, terus menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi meminta program tersebut tidak sekedar berjalan namun bisa mengangkat kearifan lokal setempat dan memberikan efek positif bagi warganya.

Demikian disampaikan Asisten 1 Administrasi Pemerintahan Setda Kota Semarang, Trijoto Sardjoko di hadapan warga saat acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrembangcam) wilayah Pedurungan, kemarin.

Menurutnya, program kampung tematik telah lama dilaksanakan sebagai salah satu upaya pemerintah kota mengentaskan kampung kumuh di semua wilayah.

“Jadi bukan sekedar proyek pembangunan semata. Ojo sekedar mlaku thok, (jangan sekedar berjalan saja). Meski keunggulannya kecil tapi bisa menjadi obyek wisata warga setempat, ya gak apa-apa. Misalkan bisa buat jalan-jalan warga,” tegasnya.

Pihaknya meminta para lurah dan camat melibatkan warga agar bisa berpartisipasi dalam membangun kota secara gotong royong.

Partisipasi warga dalam penciptaan kampung tematik dinilai penting karena keunggulan yang muncul sesuai keinginan warganya. Warga juga yang nantinya mampu merawat kampung tematik yang dibangun.

“Agar hasilnya optimal, kampung tematik harus dikawal. Saya ngawal 65 kelurahan yang ada kampung tematiknya. Di setiap kesempatan atau pun acara, seperti saat Musrembang, selalu saya sampaikan pentingnya program ini,” katanya.

Trijoto menambahkan, pemberdayaan warga menjadi poin penting dalam menggali potensi yang dimiliki. Hal ini menjadi perhatian karena program pembangunan kota tidak terlepas dari peran serta masyarakat di dalamnya.

Pada kesempatan yang sama, Camat Pedurungan, Kukuh Sudarmanto menyampaikan, salah satu kampung tematik di Kelurahan Palebon, yakni kampung seni dianggap telah berhasil. Warga setempat bisa mengambil manfaatnya diantaranya, benda-benda sekitar seperti tong sampah, pot-pot menjadi sarana lukis.

“Di wilayah itu juga kesenian menjadi hidup, seperti karawitan, grup dalang, dan kelompok rebana yang sering tampil. Di sektor usaha mikro, ada kerajianan berupa souvenir, hiasan bunga dari limbah kain, mobil-mobilan dari limbah kayu, serta aksesoris rajut dari bahan benang,” bebernya.

Selain kampung seni Kukuh menambahkan, pihaknya juga mengembangkan kampung tematik lainnya di wilayah pedurungan, seperti Kampung Harmonis, Kampung Wingko, Kampung Kreatif, Kampung Serabi, dan Kampung Guyub.

“Karena pentingnya program kampung tematik, saya menyampaikan perkembangannya di acara musrembangcam. Sehingga para lurah dan warga terus berupaya agar wilayahnya tergali potensinya,” kata satu-satunya camat di Indonesia yang bergelar doktor ini.  (is)

 

 

 

67

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan