Penurunan AKB AKI Jateng Melampaui Target

SEMARANG (Asatu.id) – Upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) di Jawa Tengah yang menjadi salah satu indikator utama dalam pembangunan kesehatan, hasilnya menggembirakan. Penurunannya bahkan melebihi target SDG’s.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Dr Yulianto MKes  mengatakan, sebuah negara atau daerah disebut bisa menurunkan AKI apabila bisa menurunkan paling tidak tiga persen per tahun. Sementara Jawa Tengah mampu menurunkan lebih dari itu.

“AKI kita pada 2017 adalah 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada 2013 AKI kita masih 118,62 per 100 ribu kelahiran hidup dan 2014 naik sedikit.  Setelah itu (setelah 2014) turun terus dan turunnya cukup banyak, lebih dari 14 persen per tahun,” beber dia dalam Rakor Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Tengah, di Patra Convention Hotel, Selasa (6/2).

Penurunan AKI di Jawa Tengah yang menyentuh angka 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup itu bahkan melampaui target SDG’s yang menetapkan pada angka 90 per 100 ribu kelahiran hidup. Keberhasilan itu, menurut Yuli,  tidak lepas dari program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang diluncurkan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP pada 2016 lalu di Surakarta.

“Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang diluncurkan 2016 lalu adalah semangat kejuangan. Greget yang dimulai dari hulu sampai hilir, lintas sektoral, lintas program, mulai dari primer sampai tersier,” ungkapnya.

Selain capaian penurunan AKI yang menggembirakan, angka kematian bayi (AKB) maupun angka kematian balita (Akaba) juga mengalami hal yang sama. Lima tahun yang lalu, AKB Jawa Tengah tercatat 10,41 per 1.000 kelahiran hidup. Pada 2017 sudah turun menjadi 8,93 per 1.000 kelahiran hidup.

“Begitu juga Akaba turun cukup signifikan dari sebelumnya 11,8 jadi 10,47 per 1.000 kelahiran hidup, ” ujar Kadinkes.

Untuk indikator pembangunan kesehatan yang lain, sambungnya, juga menunjukkan hasil yang baik. Tidak ada lagi raport merah seperti tahun lalu. Seperti umur harapan hidup yang meningkat, dari 72,6 tahun pada 2013 menjadi 74,2 tahun pada 2017, dan penurunan perilaku buang air besar sembarangan di mana pada 2013 masih 45,8 persen, dan 2017 menjadi 14,7 persen.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengapresiasi keberhasilan capaian pembangunan kesehatan, terutama penurunan AKI,  yang dilakukan secara bergotong royong oleh banyak pihak. Antara lain Dinas Kesehatan, kader kesehatan, mitra kesehatan, masyarakat kesehatan, dan LSM. Namun, dia mengingatkan, tetap masih ada indikator yang harus dikejar. Seperti, HIV/AIDS, TBC, dan kusta.

“Itu tidak cukup. Maka beberapa yang masih kita harus cari, harus kita kejar lagi, seperti stunting. Kemudian ODF kita kejar. Ya buang air di jambanlah. Masak zaman gini buang air di kali. Kemudian kita masih kejar yang berpenyakit HIV/Aida, TBC, kusta, ini yang kita kejar,” katanya.

Ganjar meminta agar pemimpin daerah tidak malu mengakui kondisi kesehatan warganya. Sebab, malu mengakui justru akan membiarkan kondisi yang semestinya harus segera ditangani.

“Kadang-kadang kita malu tidak mau mengakui. Maka yang terjadi adalah membiarkan kondisinya tanpa mengambil kebijakan yang bisa mengatasinya. Malu? Nggak usah malu, ” pinta dia.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *