Buku Karya Gatotkoco, Ingatkan Kembali Kenangan Ganjar

SEMARANG (Asatu.id) – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo seperti kembali mengingat kenangan masa kecilnya di dalam buku yang ditulis Gatotkoco Suroso berjudul “Anak Negeri: Kisah Masa Kecil Ganjar Pranowo”.

Tak hanya kenangan yang menyenangkannya, kenangan-kenangan pahit pun dituangkan dalam buku setebal 344 halaman itu. Tulisan itu membuat dirinya seperti kembali di masa kecil.

Ganjar menceritakan, saat masih kecil dia membantu Ibunya, Sri Suparni untuk menopang ekonomi keluarganya dengan berjualan kelontong dan bensin. Teringat sekali, saat dirinya membantu kulakan (membeli barang untuk dijual kembali) bensin dengan membawa jerigen-jerigen kosong.

Serta, kenangannya saat berangkat ke sekolah dengan tanpa alas kaki bersama teman-temannya yang saling menghampiri satu sama lain.

Tak ketinggalan kenangan pahit saat dirinya dan sekeluarga “terusir” dari rumah. Ceritanya, rumah masa kecil Ganjar di Tawangmangu harus dijual. Ayahnya bersepakat dengan pembeli rumah, selepas menjual ia bersama keluarga diizinkan menempati sampai mendapat rumah kontrakan.

“Tapi pas malam hari si pembeli rumah minta keluarga kami pindah segera. Pembeli melanggar perjanjiannya, tapi bapak ngalah. Semalaman hingga subuh bapak pergi mencari rumah kontrakan. Akhirnya kami terpaksa tinggal di rumah yang bersebelahan dengan pabrik gamping,” ujarnya usai syukuran bukunya berjudul “Anak Negeri: Kisah Masa Kecil Ganjar Pranowo” di tengah-tengah sawah di Dusun Sawit RT 015/RW 05, Desa Kunti, Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali, Senin (29/1) sore.

Ganjar menerangkan, presisi buku tersebut mendekati 90 persen nama, waktu, dan kronologi persis sama. Bahkan, gaya penulisan Gatotkaca dengan sedikit didramatisir di beberapa bagian di luar apa yang dibayangkan Ganjar.

“Presisinya 90 persen lah. Saya rasa ini luar biasa dengan gaya penulisan yang enak dibaca,” imbuhnya.

Sementara itu, Gatotkaca mengungkapkan novel diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja, bahwa keterbatasan kondisi ekonomi pada masa kecil tidak perlu menjadi penghalang untuk terus berjuang mencapai cita-cita.

“Terlahir dari keluarga sederhana menjadikan Pak  Ganjar menjalani hidup yang penuh dengan perjuangan. Melalui sang ayah, Parmudji, anak kelima dari enam bersaudara itu terdidik dengan disiplin tinggi,” tukasnya. (is)

 

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *