Pembangunan Energi Perlu Pemerintahan yang Bersih

SEMARANG (Asatu.id) – Pembangunan energi hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan yang bersih. Pemerintahan yang korup, tidak jujur, dan mementingkan kepentingan kelompok di atas kepentingan nasional sulit melaksanakan pembangunan energi.

Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said mengatakan, pemimpin yang tidak bersih hanya berpikir jangka pendek. Sementara pembangunan energi adalah pekerjaan jangka panjang. Belum tentu selesai satu periode masa pemerintahan.

“Karena itu jika menggunakan kalender pemilu, yang lima tahunan, pembangunan energi tidak pernah akan bisa dilaksanakan. Pembangunan energi harus berpikir untuk generasi mendatang,” ujarnya, di Semarang, Rabu (24/1).

Saat menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dia sangat mendorong pembangunan EBT. Meskipun saat itu dia mendapat tentangan karena mahalnya investasi untuk membangun pembangkit EBT.

“Mahal karena kapasitas yang dibangun masih kecil. Kalau kapasitasnya besar dalam jangka panjang akan murah, dan mengurangi ketergantungan pada BBM impor,” terang dia.

Pak Dirman bertekad, jika terpilih sebagai gubernur dia akan meningkatkan bauran EBT dalam pemanfaatan energi di Jateng. Saat ini bauran EBT di Jateng baru 4 persen dari 7.299 megawatt atau sekitar 337 megawatt. Masih jauh di bawah ratas-rata nasional yang 9 persen.

“Kalau dipilih rakyat Jateng jadi gubernur saya akan panggil para pengusaha pembangkit listrik untuk meningkatkan bauran EBT di pembangkitnya. Saya kira kalau pemimpinnya jujur, tidak punya kepentingan pribadi dan kelompok, pengusaha akan nurut,” imbuhnya.

Dunia usaha, lanjut dia, pada dasarnya akan ikut aturan pemerintah. Asal pemerintahnya bersih dan semata bekerja untuk kepentingan rakyat. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *