Sablon, Media Kreatif Suarakan Pendapat

SEMARANG (asatu.id) – Menyuarakan pendapat tidak hanya menggunakan bahasa lisan, namun bisa mengunakan berbagai media kreatif seperti sablon. Sablon adalah seni melukis yang bermediakan kaos atau pakaian dan atribut-atribut lainnya.

Pada era Orde Baru, masyarakat sangat dibatasi ruang publiknya untuk berkumpul, berserikat maupun mengungkapkan pendapat. Untuk dapat menyampaikan pesan akhirnya banyak para seniman yang menggunakan media seni untuk menyampaikan pesan.

Seniman menganggap seni adalah bahasa yang universal yang mampu mempersatukan semua kalangan, sehingga pesan akan tersampaikan dengan luas. Hingga sekarang media ini masih digunakan untuk berkampanye menyerukan berbagai persoalan.

Attak, salah satu seniman sablon yang berasal dari komunitas Nguripi Kendeng kepada asatu.id, di Semarang, Jumat (5/1), mengatakan kampanyekan sebuah perlawanan melalui media sablon sangat efektif. Selain berkampanye dan berkarya, para seniman juga bisa memanfaatkan sarana ini untuk menggalang dana.

“Komunitas ini sudah berdiri sekitar 12 tahun untuk bersolidaritas dan membantu perjuangan petani kendeng yang sedang konflik dengan PT Semen Indonesia. Hari ini kami bersolidaritas dan membantu aktivis yang menggelar acara Kamisan di halaman Gedung Gubernur untuk memperingati 20 tahun reformasi,” paparnya.

Ia menambahkan, dari aksi tersebut terkumpul dana sebesar Rp 880.000 yang berasal dari hasil penjualan kaos, live sablon dan merchendise lainnya. Keuntungan dari hasil ini akan disalurkan untuk perjuangan Petani Kendeng.

“Ke depan kami akan terus berjuang bersama petani Kendeng melalui media kreatif, selain itu kami juga berkometmen untuk bersolidaritas kepada warga yang sedang mengalami konflik agraria di berbagai daerah lainnya,” tandasnya. (Kurnia)

 

90

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan