Pengamat Nilai Odong-odong Salahi Aturan

SEMARANG (asatu.id) – Pengamat transportasi Unika Soegidjapranata Semarang, Joko Setijowarno mengatakan odong-odong yang saat ini banyak berlalu lalang dinilainya jelas melanggar unsur keselamatan berkendaraan dan rawan kecelakaan.

Menurutnya, setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknik dan laik jalan. Dalam Undang-Undang Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan telah mengatur persyaratan untuk teknis dan laik kendaraan bermotor di pasal 48.

“Pemerintah Kota Semarang harus segera menertibkan odong-odong tersebut karena melanggar peraturan lalu-lintas. Di mana harusnya setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknik dan laik jalan,” ujarnya, Jumat (5/1).

Joko Setijowarno menerangkan, untuk pengujian kendaraan bermotor sendiri berupa uji tipe dan uji berkala. Untuk uji tipe dilaksanakan oleh pemerintah yang mana dalam keadaan lengkap telah lulus uji tipe kendaraan harus diberi sertifikat uji tipe.

Sedangkan uji berkala atau KIR wajib untuk mobil penumpang umum, mobil bus, mobil barang, kereta gandengan, dan kereta tempelan yang dioperasikan di jalan. Uji KIR ini dapat dilakukan pemda, ATPM atau pengujian swasta yang mendapatkan izin dari pemerintah.

“Jadi kereta tempelan dan modifikasi tipe kendaraan bermotor yang telah lulus uji tipe diterbitkan surat keputusan pengesahan rancang bangun dan rekayasa. Sebagai bukti diberikan tanda bukti sertifikat registrasi uji tipe,’’ imbuhnya.

Ada ancaman pidananya bagi yang melanggar uji tipe, yakni pidana penjara maksimal 1 tahun atau denda maksimal Rp 24 juta. ‘’Nah, odong-odong harus dilarang operasi di jalan umum karena tidak ada uji tipe dan uji laik kendaraan,’’ tukasnya. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *