Supriyadi: Kembalikan Eks Gedung Van Dorp ke Warna Asal

SEMARANG (asatu.id) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Semarang merespon masalah bangunan warna warni di kawasan Kota Lama Semarang, yakni eks-Gedung Van Dorp yang sekarang difungsikan menjadi museum 3D (tiga dimensi). Gedung yang bernama Dream Museum Zone (DMZ) ini merupakan bekas gedung tua di Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Semarang.

Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi dengan tegas menjelaskan kawasan Kota Lama Semarang telah diatur secara rinci di dalam Perda Kota Semarang. Termasuk konsep warna cat bangunan di Kota Lama.

“Berdasarkan aturan Perda Nomor 8 Tahun 2003, konsep elemen dan warna bangunan kuno di Kawasan Kota Lama Semarang meliputi beberapa aspek. Di antaranya warna asli yang digunakan pada bangunan kuno yang memiliki sejarah harus dipertahankan. Warna asli pada bangunan kuno yang tidak memiliki sejarah dapat disesuaikan dengan fungsi dan harus kontekstual,” katanya.

Disebutkan, jenis pilihan warna yang digunakan adalah warna kuning atau ivory, putih, art deco atau pastel serta harus sesuai denga tipologi bangunan dan kontekstual. Penutup atap menggunakan material genteng tanah dengan warna terang.

“Apabila melakukan pelanggaran, ada ketentuan sanksi yang meliputi sanksi administrasi sebagaimana disebut dalam Perda Nomor 8 Tahun 2013 Pasal 60, bahwa setiap orang yang melanggar ketentuan Perda ini, Wali Kota berwenang memerintahkan untuk menghentikan atau menyegel penggunaan sebagian atau seluruh bangunan, instalasi, dan perlengkapan bangunan. Membongkar dan membangun kembali sesuai dengan ketentuan konservasi,” katanya.

Dalam hal dilakukan pembongkaran secara paksa, maka biaya pembongkaran dibebankan kepada pemilik bangunan. Selain itu dapat dikenakan tindakan berupa penangguhan dan pembatalan izin. “Selain sanksi administrasi, juga ada ketentuan pidana sesuai pasal 61 yang menyebut barang siapa melanggar ketentuan dalam Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan selama-lamanya tiga bulan dan atau denda sebesar-besarnya Rp 5 juta,” katanya.

“Solusinya, kami minta warna di bagian depan gedung itu dikembalikan ke warna aslinya. Kalau untuk di dalam gedung, sesuai dengan fungsi barunya sebagai museum 3D, silakan saja,” katanya.

Selain itu, Supriyadi menambahkan eks-Gedung Van Dorp itu memiliki nilai sejarah sehingga di bagian tertentu dalam gedung pun harus dibikin semacam penanda tentang sejarahnya sebagai edukasi.

Sementara itu, seorang pegiat sejarah di Kota Semarang, Rukardi Achamadi menyampaikan catatan tentang sejarah gedung eks Van Dorp tersebut. Beberapa penggalan catatannya, menyebut bahwa pada masanya, Van Dorp merupakan perusahaan percetakan dan penerbitan ternama. Selama kurang lebih satu abad, ia memproduksi bahan bacaan bermutu untuk masyarakat Hindia Belanda.

Meski dimiliki oleh seorang Belanda, Van Dorp tidak hanya mencetak buku-buku berbahasa Belanda. Perusahaan yang berlokasi di Oudstadhuis Straat (sekarang Jalan Branjangan, kawasan Kota Lama Semarang) ini juga menerbitkan kitab-kitab berbahasa Jawa dan Melayu, seperti Babad Tanah Djawi versi Wedana distrik ing Magetan Raden Panji Jaya Subrata (empat jilid).

Babad Pacina (terbit 1874) yang mengisahkan peristiwa pemberontakan orang-orang Tionghoa terhadap VOC pascapembantaian di Batavia pada 1740, serta Serat Kancil, Awit Kancil Kalahiraken Ngantos Dumugi Pejahipun Wonten ing Nagari Mesir, Mawi Kasekaraken (1871). Van Dorp juga pernah menerbitkan Slompret Melajoe (1860-1911), surat kabar pertama di Semarang yang menggunakan bahasa Melayu. Buku-buku dan surat kabar terbitan Van Dorp tersebar di seantero tanah Hindia dan menjadi rujukan sejumlah sarjana terkemuka, antara lain Dr BJO Schrieke dan Prof Dr PA Hoessein Djajadiningrat. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *