Kebebasan Jurnalis di Semarang Masih Belum Terpenuhi

SEMARANG (asatu.id) – Kondisi kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Jawa Tengah dan di Kota Semarang pada khususnya masih menuai hambatan. Selain itu, hubungan industrial antara jurnalis dengan perusahaannya tak hanya  menyengsarakan tapi juga rawan menganggu independensi profesi dalam menyebarkan informasi akurat dan bebas kepentingan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Semarang Edi Faisol menuturkan beberapa contoh kasus, seperti salah satu kasus berupa pemutusan hubungan kerja jurnalis Sindo Jawa Tengah dan Sindo Trijaya Semarang yang berakhir dengan penyelesaian tak sesuai ketentuan.

Menurut Edi, terkait dengan buruknya hubungan jurnalis dan perusahaan medianya, hal ini dikarenakan masih lemahnya jurnalis dalam berserikat, sehingga suaranya kurang didengar oleh pemilik media.

“Kondisi itu hampir terjadi di semua media, ironisnya mereka yang berserikat di perusahaanya juga tak banyak. Oleh karena itu AJI Semarang mengimbau kepada semua jurnalis agar sadar untuk berserikat  karena hal itu dilindungi undang-undang,” katanya, Jumat (29/12).

Menurut Edi, posisi jurnalis yang masih lemah di hadapan pemilik media tersebut dapat mempengaruhi independensinya, sehingga ke depan harus diperkuat melalui pengorganisasian serikat pekerja media.

21

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan