Kopi Margo Redjo, Takdir Menuju Kemakmuran

SEMARANG (asatu.id) – Kopi selalu memiliki daya tarik sendiri  ketika dinikmati. Karena memiliki rasa dan aroma yang khas yang cocok dijadikan minuman di segala suasana. Tidak heran, pagi, siang, sore dan malam pun, kedai-kedai kopi selalu ramai dipenuhi oleh pengunjung dan para penikmat kopi.

Saat ini menjamurnya kafe-kafe, dan “ngetrendnya” minum kopi memang sedang terjadi di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Minum kopi seakan merupakan hal yang wajib dilakukan dan menjadi gaya hidup baru kaum urban, khususnya di kalangan anak muda. Kian banyaknya kedai kopi yang menjamur di kota-kota besar semakin menambah kepopuleran minum kopi itu sendiri.

Ketersediaan bahan tidak bisa terlepas dari distributor penyuplainya. Seperti halnya toko kopi yang terletak di Jalan Wotgandul Barat No.12 Semarang. Toko Kopi Margo Redjo atau lebih dikenal sebagai “Gudang Kopi Margo Redjo,” artinya jalan kemakmuran.

Tak seperti toko kopi yang lainnya, ini tergolong unik. Bangunan tua era kolonial dengan gaya arsitektur Viktorian dan sedikit sentuhan Art deco abad ke-20, pernah mengalami renovasi ulang. Tempatnya tidak memiliki penanda seperti tempat jual-beli pada umumnya. Bagi yang tidak terbiasa akan sedikit kebingungan  karena aksesnya seolah tertutup dari luar dan hanya memiliki jendela kecil untuk bertransaksi dengan pembeli. Tetapi aroma sangrai kopi yang khas akan tercium jika melewati tempat ini di jam-jam tertentu.

Saat disambangi Sabtu (23/12) lalu oleh Asatu.id, terlihat karyawan perempuan Sri Hartanti duduk sambil memilah-milah biji kopi mentah. Aroma wangi biji kopi yang sedang disangrai langsung menyengat.

“Mau beli kopi apa?”, tanya perempuan yang sudah bekerja selama 17 tahun di toko kopi ini.

Harga yang ditawarkan toko kopi ini sangat bervariasi, tergantung dari jenis dan kualitas kopinya. Mulai buka setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Varian kopinya cukup komplit. Hampir semua tempat penghasil kopi di Nusantara  tersedia di tempat ini. Mulai Aceh, Gayo, Medan, Sidi kalang, Takengon, Bengkulu,Lampung, Toraja, Malabar, Temanggung, Boja, Bali, Nusa tenggara, dll. Bahkan juga menyediakan kopi fermentasi, hingga kopi luwak.

Pemilik kopi, Widayat Basuki Dharmowiyono mengungkapkan toko kopi ini adalah warisan ayah dan kakeknya. Berdiri sebelum era kemerdekaaan, sekarang dikelola oleh generasi ketiga. Berbeda dengan ayah dan kakeknya yang dahulu menjual bubuk kopi, mulai 2017 Basuki hanya menjual biji kopi yang sudah disangrai.

“Usia biji kopi lebih panjang daripada bubuk kopi. Bubuk kopi hanya tahan delapan jam setelah digiling, setelah itu aromanya menurun tajam, dan sehari kemudian rasanya sudah berbeda. Sedangkan biji kopi tahan delapan hari setelah disangrai, setelah itu aromanya menurun.” ujarnya.

Menurutnya, saat ini kopi yang paling ramai diburu adalah jenis arabika Bengkulu. Alasannya harga terjangkau dan memiliki cita rasa khas dengan aroma rempah.

Seorang konsumen, Vikki Rohman mengaku lebih suka membeli kopi di Margo Redjo karena beberapa alasan, bukan hanya sekadar ingin membeli kopi saja, namun asyiknya bisa bercengkerama langsung kepada sang pemilik kopi.

“Kebetulan Pak Basuki orangnya enak diajak ngobrol tentang apapun. Saya bisa berjam-jam nongkrong di sini. Ga ngobrolin tentang kopi aja tapi tentang banyak hal. Tentang bagaimana tempat ini bisa menjadi sebuah ruang. Sebagai sarana untuk bertukar informasi segala jenis pengetahuan, berdiskusi dan pertemuan intens para penikmat kopi di Semarang dan sekitarnya.” tandasnya kepada Asatu.id

Vikki, demikian sapaan akrabnya mengaku membeli kopi untuk dikonsumsi sendiri. Ia sudah berlangganan kopi tersebut sejak tiga bulan yang lalu.

“Setiap membeli biasanya saya suka membeli kopi jenis Aceh Borboune dan Candiroto Wine karena kopi jenis ini sekarang sulit didapatkan di tempat lain,” ujar pria asal Jerakah, Kecamatan Tugu Semarang.

Toko kopi ini menorehkan sejarah yang cukup panjang, perusahan kopi keluarga yang didirikan sejak tahun 1916 di Bandung, kemudian pindah ke Semarang tahun 1925. Namun yang datang ke tempat itu hanya kalangan tertentu dan pelanggan di lingkungan setempat, tidak seperti kopi Aroma yang terkenal di Bandung. Sejarah tempat ini sudah sangat tua, karena masih ada mesin-mesin besar pengolahan kopi pada zaman dahulu yang terbengkalai. Bukti bahwa di tempat ini pernah merasakan kejayaan era industri rempah kolonial yang menancapkan benderanya di Nusantara. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *