Dewan Minta Pemkot Semarang Maksimalkan BRT

SEMARANG (asatu.id) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menilai, pembangunan transportasi massal berbasis monorel di Kota Semarang, baik Light Rapid Transit (LRT), Kereta Rel Listrik (KRL), atau pun Mass Rapid Transit (MRT), saat ini belum mendesak dibangun di Kota Semarang.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, selain belum mendesak diterapkan, menurutnya, Pemkot Semarang perlu kajian yang mendalam untuk merealisasikannya.

“Semarang itu kan perencanaannya kurang. Kecuali jika pengguna angkutan umum itu sudah luar biasa. Bolehlah dibangun kan LRT atau sejenisnya. Tapi kan saat ini belum mendesak,” ujarnya, Minggu (24/12).

Menurut Joko, saat ini, Pemkot Semarang harusnya lebih memaksimalkan angkutan umumnya, dalam hal ini Bus Rapid Transit (BRT) terlebih dahulu sebelum merealisasikan transportasi berbasis monorel.

“Lebih baik memaksimalkan angkutan umumnya (BRT) dulu menggunakan feeder. Yang efeknya angkutan umum bisa maksimal menjangkau hingga permukiman warga. Nah kemudian jika sudah maksimal bolehlah rencana LRT itu dibuat,” imbuhnya.

Sementara itu, sebelumnya, Pakar Transportasi Unika Soegijapranoto, Djoko Setijowarno menambahkan, sangat kecil kemungkinan Light Rapid Transit (LRT) akan terwujud di Kota Semarang dalam waktu dekat ini. Menurutnya, moda transportasi monorel tidak cocok untuk wilayah perkotaan.

“Contoh saja Bandung dan Surabaya yang sudah punya perencanaan matang lima tahun yang lalu saja hingga sekarang belum apa-apa. Kecuali ada kekuatan politik yang besar terhadap Kota Semarang,” ujarnya. (is)

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *