Esai Ajak Pembaca Kritis dan Solutif

SEMARANG (asatu.id) – Dalam menulis esai, penulis bisa memilih sudut pandang yang beragam. Format esai yang sangat longgar dan fleksibel memungkinkan penulis untuk lebih kreatif dalam menuliskannya. Esai juga mendorong pembaca untuk kritis dan mencari perspektif atas berbagai permasalahan.

“Dari sisi terminologi esai sendiri tak ada sebuah rumusan yang baku. Esai itu coba-coba. Tak bermaksud menjadi sebuah tulisan ilmiah juga tak bertendensi menjadi tulisan fiksi,” ujar wartawan Suara Merdeka Zakki Amali dalam bedah buku di Nir Café & Space, Patemon, Gunungpati, Semarang, Selasa (19/12).

Buku yang dibedah adalah dua buah karya Dhoni Zustiyantoro, dosen Prodi Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes), yaitu Jaman Susah Golek Panutan (kumpulan esai berbahasa Jawa) dan Tentang Jawa dan Hal-hal yang Tak Selesai (kumpulan esai berbahasa Indonesia).

Menurut Zakki, esai-esai yang ditulis Dhoni memiliki perspektif kebudayaan Jawa yang kuat. Setiap permasalahan yang diangkat ditulis menggunakan sudut pandang Jawa, entah itu berdasar cerita pewayangan, legenda, atau ungkapan-ungkapan Jawa. Isu yang kini sebagian besar telah dilupakan masyarakat karena kemelimpahan informasi, ia angkat sehingga tetap kontekstual.

“Dalam sekujur esainya, terbaca sebuah pola yang ajek, pola yang umum digunakan para esais. Dengan lead yang menohok, argumentasi dan data kuat, juga ending yang menendang. Dhoni tergoda dengan mengawali lead dengan sebuah pertanyaan. Namun tak jarang diakhiri dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang dikembalikan kepada khalayak,” ujarnya, dalam diskusi yang diikuti sekitar 50 peserta itu.

Guru MTs Negeri 1 Semarang, Fahmi Abdillah, menyatakan buku kumpulan esai tersebut memuat referensi dari banyak sumber. Hal itu menjadi kekuatan tersendiri untuk menguatkan argumentasi penulis. Sebab, jika tidak diperkuat dengan sumber yang relevan, sebuah esai bisa sangat subjektif, sekalipun memang berdasarkan pandangan pribadi penulis.

Esai Dhoni juga memiliki sikap yang jelas sejak paragraf pertama, namun isinya acap mengajak pembaca memilih sikap masing-masing.
Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dyah Prabaningrum, mengatakan, kebudayaan Jawa tidak ada habisnya untuk terus digali dari berbagai macam perspektif.

Kebudayaan Jawa, dengan demikian, sangat kontekstual dan tidak sekadar terbatas waktu. “Esai-esai karya Dhoni sekaligus mengajarkan tentang nilai-nilai dalam kebudayaan Jawa itu sendiri, tidak hanya sudut pandang penulis untuk mengritisi dan memberi tawaran solusi atas permasalahan yang sedang mengemuka,” ujarnya.(Is)

25

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan