LRT Sulit Terealisasi, Djoko: Pemkot Harus Maksimalkan BRT

SEMARANG (asatu.id) – Pakar Transportasi Unika Soegijapranoto, Djoko Setijowarno mengatakan, sangat kecil kemungkinan Light Rapid Transit (LRT) akan terwujud di Kota Semarang dalam waktu dekat ini. Menurutnya, moda transportasi monorel tidak cocok untuk wilayah perkotaan.

“Contoh saja Bandung dan Surabaya yang sudah punya perencanaan matang lima tahun yang lalu saja hingga sekarang belum apa-apa. Kecuali ada kekuatan politik yang besar terhadap Kota Semarang,” ujarnya Senin (17/12).

Terkait biaya pembangunan moda transportasi berbasis rel seperti LRT tersebut, Djoko menerangkan, bahwa estimasi pembangunan LRT memakan anggaran kurang lebih 500 miliar per kilometer. Kemudian belum termasuk pegadaan rolling stok, sinyal, listrik, dan sarana telokomunikasinya.

” Jadi seandainya Kota Semarang mau membangun sejauh 30 kilometer, berarti sudah memakan anggaran Rp 15 triliun. Sedangkan APBD Kota Semarang sekitar Rp 4 triliun,” imbuhnya.

Ditanya menyoal solusi untuk kemacetan yang kerap terjadi di Kota Semarang, Djoko menyebutkan bahwa Pemerintah Kota Semarang bisa dengan lebih serius memaksimalkan Bus Rapid Transit (BRT) yang bisa menjangkau kawasan perumahan dan pemukiman penduduk.

“Jadi harus ada feeder untuk menjangkau masyarakat permukiman sebagai penghubung ke shelter BRT. Lalu saat jam sibuk feeder juga bisa difungsikan masuk ke dalam kota. LAlu kaitanya dengan LRT, biaya satu kilometernya bisa untuk membuka 10 koridor baru BRT,” tukasnya. (is)

27

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan