Kota Semarang Penyumbang Tertinggi Anak Jalanan

SEMARANG (asatu.id) – Dinas Sosial Kota Semarang bekerja sama dengan Yayasan Setara menyelenggarakan sosialisasi dengan tema “Menuju Tatanan Kehidupan Sosial yang Sehat dan Bebas Anak Jalanan.” Seminar yang diadakan di Aula Wisma Perdamaian Semarang, Senin (18/12).

Sosialisasi ini juga mengacu pada program Menuju Tatanan Kehidupan Sosial yang Sehat dan MIBAJ (Menuju Indonesia Bebas Anak Jalanan) yang telah dideklarasikan oleh Menteri Sosial RI, di mana ditargetkan 2017 Indonesia Bebas Anak Jalanan.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Tommy mengatakkan kota yang sehat adalah kota dengan tatanan kehidupan sosial yang sehat dan salah satunya terbebas dari anak jalanan (anjal). “Semua ini bisa terwujud dengan dukungan dan kerjasama seluruh pihak, Forum Kesehatan Kota atau kelurahan, Tim Penganjauan Dinas, LSM  serta masyarakat bisa saling mendukung untuk bersama-sama mendukung terwujudnya Semarang Kota Yang Sehat dan Bebas Anak Jalanan,” ujarnya.

Data Dinas Sosial menyebutkan Kota Semarang menjadi penyumbang angka yang tinggi anak jalanan di Jateng, dengan 302 anak (L:159, P:143). Jumlah itu kemungkinan masih bertambah lagi, mengingat ada anak jalanan yang belum tercatat oleh Pemerintah Kota Semarang, dalam hal ini Dinas Sosial Kota Semarang. Salah satu upaya Pemerintah Kota Semarang dengan menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 yang memuat tentang penanganan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Semarang.

Tsaniatus Solihah, Manager Program Yayasan Setara menambahkan pihaknya membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam rangka mewujudkan Semarang Kota yang Sehat dan Bebas Anak Jalanan. “Masyarakat kami harapkan ikut berperan aktif dalam penegakan Perda No 5 Tahun 2014 mengenai anak jalanan,” pungkasnya. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *