Antisipasi Regulasi Registrasi Kartu Perdana, KNCI Lakukan Konsolidasi

SEMARANG (asatu.id) – Kesatuan Niaga Celular Indonesia (KNCI) Komunitas Pedagang Selular Jateng-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Jambore Daerah IV Jadikopen’s Semarang, di Hotel Citra Dewi Bandungan, Kabupaten Semarang, Sabtu-Minggu, (9-10/12). Kegiatan yang menjadi ajang konsolidasi KNCI ini dihadiri ratusan peserta.

Helmi Helda, salah satu peserta dari Ciamis, mengaku senang bisa mengikuti Jambore tersebut. Selain menjadi sarana silaturahmi dengan sesama pelaku ritel selular dari seluruh Indonesia, Jambore tersebut juga bisa menjadi konsolidasi untuk menyatukan visi-misi dalam memperjuangkan nasib pelaku usaha ritel ke depan dan menambah relasi sesama pengusaha ritel seluler.

Melalui Kesatuan Niaga Celular Indonesia (KNCI)-Komunitas Pedagang Selular Jateng ini, lanjutnya, aakan terjalin komunikasi antara pelaku usaha dengan pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Menurutnya, persoalan maraknya keberadaan ritel selular modern, seperti pembelian pulsa berbasis aplikasi online, minimarket, buka lapak dan lain-lain berdampak terhadap tradisional channel.

“Modern channel diberikan fasilitas registrasi mandiri dan bonus tinggi sehingga memengaruhi harganya lebih murah, sedangkan ritel tradisional channel tidak. Perlakuan antara tradisonal channel dan modern channel berbeda. kan jadinya tidak adil,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang membatasi dalam aktivasi kartu perdana yang melakukan pembatasan maksimal hanya tiga registrasi sangat mengancam masa depan pelaku usaha ritel. Ia mencontohkan kondisi saat ini misal prosentase pembelian pulsa. Dulu, 80 persen adalah pembelian pulsa reguler, 20 persen data internet yang dimana saat ini sudah terbalik, di mana pembelian data internet 80 persen, sedangkan pulsa reguler hanya 20 persen.

“Sehingga kalau pembelian data internet dengan dilakukan pembatasan pembelian kartu perdana diberlakukan, maka ritel-ritel ini bisa gulur tikar. Jika kebijakan registrasi 1 NIK 1 KK untuk 3 registrasi akan membunuh usaha ritel selular tradisional channel,” imbuhnya.

Sementara itu, Penasihat Kesatuan Niaga Celular Indonesia (KNCI) Jateng-DIY, Joeniran mengatakan, tema yang diambil dalam acara jambore tersebut adalah “Kerja Bersama untuk Kemajuan Ritel Selular Indonesia Tradisional Channel,” dihadiri 700 pelaku usaha ritel selular dari berbagai daerah Indonesia, seperti Jawa Tengah, DIY dan dari luar daerah lain, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera.

Pihaknya juga menggarisbawahi kebijakan regulasi registrasi Kartu Perdana 1 NIK 1 KK dengan pembatasan maksimal 3 kartu perdana dengan batas akhir 28 Februari 2018 mendatang. “Kami mendukung registrasi kartu perdana tersebut, saat ini masih menunggu keputusan pemerintah agar kebijakan tersebut tidak ada pembatasan tiga kartu perdana,” katanya.

Dirinya mengaku telah melakukan audiensi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia terkait kebijakan tersebut. “Sudah ada respon dari regulator tersebut saat dialog digelar seperti opsi unreg atau registrasi ulang bagi kartu seluler yang mati dan kebijakan kepemilikan kartu perdana lebih dari tiga dengan meregistrasi sendiri ke kantor operator telekomunikasi,” tukasnya. (is)
l

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *