Desa Wonolopo Kampoeng Jamu Tradisional

SEMARANG (asatu.id) – Kampoeng Jamu yang berada di wilayah Wonolopo, Mijen, Semarang, ditetapkan sebagai Kampung Tematik. Kampoeng yang berdiri sejak tahun 70-an ini memiliki generasi para peracik jamu tradisional dan sebagian besar warganya mencari nafkah dari usaha jamu gendong.

Ketua Paguyuban Jamu Gendong Sumber Husodo Wonolopo, Kholidi mengatakan Kampoeng Jamu Wonolopo saat ini menjadi salah satu distributor tanaman jamu ke pabrik jamu besar. Bahan jamu yang menjadi andalnya, antara lain jahe, temulawak, temu mangga, kunir.

“Jamu itu mereka jajakan dengan cara digendong. Belakangan mengalami perkembangan, karena ada penjual jamu yang menjajakan dagangannya dengan sepeda atau sepeda motor,” kata Kholidi kepada asatu.id, di Semarang, Sabtu (9/12).

Menurut Kholidi, pemilihan usaha jamu gendong di kampungnya karena terbukti telah membawa manfaat. Salah satunya, lingkungan yang tertata dan jalanan berpaving bersih. Perbaikan infrastruktur jalan paving itu merupakan hasil swadaya warga yang bergelut di bidang jamu gendong.

“Awalnya kan karena ibu-ibu banyak yang menganggur ketika suaminya bekerja. Kemudian mereka mencoba berdagang jamu gendong, ternyata hasilnya luar biasa. Bahkan akhirnya menjadi penopang utama kampung. Total pengrajin jamu yang ada di Desa Wonolopo berjumlah 35 orang,” ujarnya.

Sebagai kampung jamu, lanjut dia, Wonolopo tidaklah hanya menjadi penjual saja. Mereka juga menjadi produsen sejak dari hulu. Berbagai tanaman bahan jamu ditanam di pekarangan warga. Mulai dari temu lawak, kunyit, daun pepaya dan manjakani, cabe, lempuyang dan beberapa bahan lagi.

Menyinggung omzet penjualan, Kholidi mengatakan pendapatan mereka per hari cukup mencengangkan. “Ada yang bisa mencapai 50 kilogram. Namun banyak pula yang memiliki omzet 10 kg per hari. Setiap hari, ibu-ibu penjaja jamu ini bisa membawa 15-20 liter jamu gendong,” paparnya.

Belakangan ini, sambung dia, ada perkembangan model jualan, yakni ada yang memanfaatkan sepeda maupun sepeda motor. “Bagi yang memakai motor bisa sampai 70 liter. Mereka membawa aneka jamu, seperti beras kencur, gula asem, cabe puyang, daun pepaya, kunyit, manjakani, brotowali. Untuk area penjualan mereka berjualan di sekitar Kota Semarang seperti Pasar Simongan, Pasar Ngaliyan, Pasar Mijen dan sekitar Boja,” pungkasnya. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *