Nilai Tukar Petani Naik,Tanaman Pangan Jadi Andalan

SEMARANG (asatu.id) – Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah November 2017 sebesar 103,43 atau naik 0,45% dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP karena Indeks Harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,78% dan Indeks Harga yang dibayar petani (lb) naik  0,33%.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jateng Margo Yuwono kepada asatu.id mengatakan tanaman pangan berhasil mengangkat NTP petani. “Saat ini adalah musim penghujan di mana tanaman dapat tumbuh dengan subur, serta hasil yang cukup bagus sehingga daya jualnya meningkat,” tuturnya, Senin (4/12).

Pada November 2017, kata Margo, komoditas yang mengalami kenaikan harga, antara lain pada komoditas tanaman pangan seperti, gabah dan ketela pohon/ubi kayu dan kacang hijau. Sedang komoditas hortikultura seperti, cabai merah, tomat, lengkuas dan kencur.

Kemudian, komoditas tanaman perkebunan rakyat, seperti kakao dan kapulaga. Sementar subsektor peternakan dan perikanan mengalami penurunan harga, antara lain pada komoditas kambing, telur ayam buras dan telur ayam ras, ikan nilem, bawal, bandeng, kerapu dan lain-lain.

“Jateng memang sedang menjadi perhatian pemerintah, karena di sektor pertanian cukup berhasil seperti kawasan Demak dan Grobogan yang menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama sebagian besar warga,” ujarnya.

Sebagai komoditas utama, harga gabah kering di tingkat petani naik 0,55% dan gabah kering panen naik 1,24%. hal ini karena berhasilnya panen di sejumlah tempat, sehingga harga jual gabah naik cukup tinggi.

Sementara untuk harga di tingkat pengilingan tertinggi tercatat Rp 6.140 per kilogram dari gabah kering giling (GKG), yaitu vareitas IR 64 terdapat di Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Serta untuk yang terendah diperoleh pada kelompok gabah kering panen (GKP), yaitu Rp 4.200 di Lebaksiu, Kabupaten Tegal.

“Menurut data yang telah dhimpun, jika dibandingkan tahun lalu GKG alami kenaikan 18,08% dari 4.920 per kilogram dan tingkat penggilingan naik 17,76% dari 4.984 perkilogram,” tuturnya.

Margo menambahkan, dari 33 provinsi di Indonesia, pada November kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Riau sebesar 1,95%. Sebaliknya penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bangka Belitung sebesar 1,73%.

Pada November 2017, Jawa Tengah terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,50% akibat naiknya semua kelompok pengeluaran.

“Jateng menempati peringkat 6 inflasi terbesar secara nasional, hal itu dipicu karena adanya kenaikan harga bahan makanan sebesar 0,96% makanan jadi, rokok, tembakau dan minuman 0,09%,” ujarnya.

Semester itu,  Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Jawa Tengah November 2017 sebesar 109,82 atau naik 0,76% dibanding NTUP bulan sebelumnya. (is)

 

12

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan