Pabrik PCC di Jl Halmahera,  Omzet Sebulan Rp 2,5 Miliar

SEMARANG  (asatu.id) – Hasil pengembangan Badan Narkotika Nasional (BNN) atas terungkapnya keberadaan pabrik pembuatan pil Paracetamol Caffein Caresoprodol (PCC), di  Jalan Halmahera Nomor 27, Karangtempel, Semarang, Minggu lalu (3/12) pukul 06.30 WIB, terbilang mencengangkan.

Pabrik yang berada di dalam rumah mewah di pinggar jalan, dan aktivitas produksi pilnya tanpa sepengetahuan warga setempat, ternyata mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp 2,7 miliar per bulan.

Hal tersebut dipaparkan Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso saat jumpa pers di lokasi kejadian, Jalan Halmahera Nomor 27, Karangtempel, Semarang, Senin (4/12).

Buwas sapaan akrabnya mengatakan pabrik tersebut memproduksi PCC dan pil dextro sebanyak satu juta butir pil dengan nilai Rp 90 juta.

“Sebulan pabrik ini bisa memproduksi 13 juta pil. Jika diasumsikan, sebulan pabrik ini mampu meraup keuntungan sebesar Rp 2,7 miliar,” ujarnya (4/12).

Menurut Buwas, produksi pil tersebut dilakukan lebih dari satu orang pekerja untuk menghasilkan kentungan bersih hingga mampu membayar sejumlah karyawan.

“Produksi ini tidak mungkin jika dilakukan per orangan, dan nyatanya 11 orang pekerja kita amankan ditambah dua orang.  Joni (38) dan Ronggo (52) merupakan pelaku utama, di mana diketahui alur aktivitas ilegalnya, ada agen dan penerima,” ujarnya.

Buwas menambahkan pihaknya membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk melakukan pengintaian sekaligus membongkar jaringan tersebut.

“Ini bukan pemain baru, meraka cukup profesional dalam melakulan aktivitas ilegalnya, di mana rumah produksinya didesain kedap suara, sehingga masyarakat sekitar tidak tahu aktivitas yang dilakukan,” ujarnya.

Ke 11 pelaku,  termasuk dua pelaku utama pekerja, telah diamankan di antaranya Ahmad, Zainal, Tono, Panuwi, Aden, Rusalan, Hartoyo, Budi, Kriswanto, Ade Ridwan, Krisno dan Suroso.

Joni, salah satu pelaku utama, ditangkap di rumahnya, Jalan Gajah Barat IV Semarang, memiliki satu pucuk senjata api merek Zettira buatan Cheko beserta dengan 10 butir peluru karet. Dia mengaku memiliki izin penggunaan senpi itu.

Hal tersebut langsung ditanggapi serius Polda Jateng. Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mengatakan akan menelusuri prosedur izin pistol tersebut kepada para personel terkait.

“Kami akan telusuri ke pihak-pihak terkait dari hulu kepemilikan awal hingga hilir perizinannya,” ujarnya. (Isan)

 

11

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan