Apoteker Diminta Awasi Penggunaan Obat Daftar G

UNGARAN (asatu.id) – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Brigjen Tri Heruprasetyo meminta para apoteker agar ikut menjaga dan mengawasi penggunaan obat-obatan yang dikonsumsi kepada masyarakat. Terlebih lagi, penggunaan jenis obat dalam daftar G.

“Sebenarnya banyak obat-obatan yang harus diawasi penggunaannya. Untuk itu kami imbau para apoteker ikut mengawasi agar tidak disalahgunakan,” kata Tri Heruprasetyo pada seminar dan pelatihan Penyalahgunaan dan Pengawasan Narkotika dan Psikotropika pada Farmakoterapi Nyeri Tulang Belakang yang diselenggarakan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kabupaten Semarang, di Ungaran, Minggu (3/12) pagi.

Khusus penggunaan obat daftar G, kata dia, tidak sedikit obat  ini disalahgunakan oknum apoteker. Jika obat  berbahaya ini diedarkan dan disalahgunakan, seperti jenis paracetamol caffeine carisoprodol (PCC), obat  yang memiliki efek halusinasi bisa mengakibatkan penggunanya bisa meninggal dunia.

Menurut Tri, tidak hanya obat berbahaya saja yang perlu diawasi, pembelian obat yang mengandung efek penenang dan ngantuk juga perlu diawasi. “Pembelian besar obat seperti ini perlu kita dicegah bersama. Tidak menutup kemungkinan obat jenis ini akan disalahgunakan,” ujarnya.

Sementara Ketua Panitia, Nur Aisyah mengatakan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan para mahasiswa dan apoteker, sehingga mereka tidak terbawa dalam informasi yang keliru. “Banyak informasi dari media sosial yang kadang-kadang menyesatkan, diharapkan para apoteker dapat melayani masyarakat sesuai prosedur hukum yang berlaku,” paparnya.

Nur Aisyah meminta para apoteker agar lebih memahami penggunaan dosis dan jenis obat yang sesuai kebutuhan pasien. Seperti yang umum terjadi dalam masyarakat, kadang nyeri sendi dibilang sakit kolesterol atau asam urat.

“Tidak sedikit apoteker keliru, padahal mereka mengalami masalah dalam tulang belakangnya. Sehingga jangan sampai memberiakn obat keliru dengan berdasar informasi,” ujarnya.

Selain melayani masyarakat, dia mengharapkan para apoteker bisa memberikan pengertian informasi yang jelas para pasien. Dengan memahami penggunaan obat secara benar, masyarakat mengonsum obat sesuai dosis yang dianjurkan.

 

22

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan