Antisipasi Pengeboran Tanah, Pemprov Jateng akan Sahkan Perda Air Tanah

SEMARANG (asatu.id) – Penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, khususnya Semarang, sudah dalam tahap memprihatinkan lantaran maraknya eksploitasi air tanah dalam bentuk pengeboran.

“Daerah barat di Bandara Ahmad Yani dan Madukoro amblesnya 4 cm per tahun, Tanah Mas 8-10 cm per tahun, kemudian Pelabuhan, Terboyo sama 24 cm per tahun,” ujar Bambang Mandala Putra, Kepala Bidang Geologi Dan Air Tanah Dinas ESDM Provinsi Jateng dalam Prime Topic Diskusi Moratorium Pengeboran Air Tanah, di Quest Hotel Semarang, Jumat (24/11).

Bambang mengatakan selain Semarang, wilayah Jawa Tengah lain yang mengalami penurunan permukaan tanah terjadi pula di Pekalongan, Tegal, Surakarta dan Jepara.

“Selain rob dan erosi air laut, yang menjadi permasalahann adalah maraknya pengeboran air tanah, di sejumlah kawasan industri, baik pelabuhan maupun lingkungan industri kecil karena sudah sangat berbahaya,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Provinsi Jateng, Rukma Setyabudi mengatakan, penurunan air tanah di Jateng sudah dalam tahap membahayakan. Untuk itu pihaknya pada bulan Desember 2017 akan mengesahkan peraturan daerah (Perda) tentang air tanah.

“Bersama Dinas ESDM kami sudah membuat sejumlah peraturan tentang pengambilan air tanah, di mana saat ini masih banyak pabrik ataupun hotel yang menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan industri,” ujarnya.

Jika sudah disahkan, lanjutnya, akan membentengi eksploitasi air tanah secara besar-besaran karena air bersih merupakan sumber kehidupan, sehingga harus dijaga dengan sebaik mungkin.

“Pengeboran air tanah adalah pilihan terakhir, pilihan ini bukan terakhir tetapi ada kewajiban semua kalangan untuk membuat sumur resapan dalam agar ketersedian air tanah tidak habis juga meminimalisir amblesnya permukaan tanah,” imbuhnya. (isan)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *