Lembaga Konsumen Rokok Indonesia Dideklarasikan di Semarang

SEMARANG (asatu.id) – Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI) dideklarasikan di Kota Semarang Selasa (21/11). LKRI sengaja hadir untuk melakukan pembelaan terhadap perokok yang selama ini memiliki kontribusi terhadap negara, walaupun dideskriminasikan melalui sejumlah stereotipe miring dan kebijakan pemerintah yang menyudutkan.

Agus Condro Prayitno,  Ketua Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI), mengatakan seorang perokok rata-rata mampu memberikan kontribusi negara hingga Rp 250.000 per bulan, dengan hitungan setiap hari mengonsumsi rokok satu bungkus dengan harga rata-rata Rp 15.000 dan cukai per bungkus Rp 8.000.

Total nilai cukai saat ini sudah mencapai 63 persen dari target akhir tahun 2017 Rp 138 triliun, bahkan tahun 2018 Kementerian Keuangan kembali menaikkan target Rp 148 triliun. Dengan fakta itu, LKRI mengajak para konsumen rokok sadar sebagai konsumen untuk memperjuangkan hak-hak sebagai pemberi masukan negara.

“Kami bangga menjadi perokok, karena punya kontribusi jelas terhadap negara,” ujarnya

LKRI meminta setiap kebijakan kenaikan cukai perlu melibatkan konsumen rokok. LKRI juga berharap pemasukan negara dari cukai, sebesar besarnya untuk membantu rakyat sakit dan bantuan pendidikan untuk rakyat miskin, sesuai program Nawacita Presiden Joko Widodo. Selain itu, LKRI juga akan menggugat kebijakan BPJS yang tidak mengcover konsumen rokok.

“Negara tak boleh melepas ikatan antara konsumen sebagai pembayar premi sebagai klien yang harus dibiayai,” tegasnya

Aktivis Hak Azasi Manusia (HAM), Hendardi, yang turut hadir dalam deklarasi menyatakan rokok bukan komoditas ilegal dan bukan kejahatan serta punya implikasi luas terhadap segala hak usaha, kerja dan petani nasional.

Ia menduga di balik larangan dan tekanan bagi perokok ada kepentingan persaingan industri farmasi, memperebutkan sumber nikotin yang sangat menguntungkan. “Maka lahirlah rezim berdalih kesehatan dunia yang anti rokok,” imbuhnya.

“Kalau berbicara rokok, artinya berbicara kesejahteraan banyak orang. Karena memberi pemasukan yang luar biasa untuk negara. Kretek dibangun dalam rentan sejarah panjang. Meski terjadi pasang surut, tetapi kretek terbukti mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan menjadi penyumbang pendapatan negara melalui cukai,” tambahnya.

Mengapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini cenderung menyudutkan perokok. “Saya katakan kretek memiliki sejarah panjang hingga mampu bertahan sampai seperti saat ini. Tentu ini tidak mudah sehingga industri kretek tangguh sampai saat ini. Kretek juga memiliki sejarah tidak disukai kolonial. Di balik kebijakan yang menyudutkan perokok, ada perang antara industri kretek dengan industri farmasi,” katanya.

Sedangkan dosen Fisip Undip, Turtiantoro, mengingatkan mengapa dari dulu orang barat berbondong-bondong ke Indonesia. Sebab Indonesia menjadi negara yang kaya rempah-rempah hasil alam.

“Karet Indonesia jadi raja dunia, tebu, minyak kelapa, semua menjadi raja dunia. Tetapi akhirnya dihantam habis-habisan, diserang untuk digantikan komoditas dari barat. Begitupun tembakau atau kretek. Ini adalah perang dagang internasional, perang rokok putih dangan kretek, ujung ujungnya Indonesia menjadi pasar komoditas rokok putih, dan hancurnya kretek,” tukasnya. (is)

94

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan