UMi Jadi Stimulan Usaha Masyarakat Bawah

MAGELANG (asatu.id) – Angka kemiskinan yang tinggi di Indonesia mendorong pemerintah untuk berupaya mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) Financing yang digunakan sebagai stimulan kewirausahaan masyarakat bawah.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Keuangan RI Margiasmo saat diskusi panel dalam acara First Indonesia International Microfinance Forum 2017 di Gedung AH Nasution Komplek Akademi Militer Magelang, Sabtu (18/11).

“Berbicara kemiskinan, Kementerian Keuangan menjembataninya dengan program UMi atau Ultra Mikro Financing yang dapat menyentuh lapisan masyarakat bawah dengan kebutuhan penyaluran kredit nominal kecil berkisar antara Rp 2 – 3 juta,” katanya.

Menurutnya, masih banyak masyarakat kalangan bawah yang sangat membutuhkan akses pinjaman perbankan dengan nominal kecil. Seperti salah satunya pedagang makanan. Hal ini berbeda dengan nasabah KUR yang memiliki pinjaman di kisaran angka Rp 10 sampai Rp 15 jutaan.

“Untuk itu, BPD melalui ASBANDA harus secepatnya masuk kepada kalangan bawah agar pembangunan di desa dapat segera terwujud sesuai harapan Presiden Joko Widodo,” imbuhnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan UMKM RI, Yuana Sutyowati menambahkan, saat ini di tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat masih berada di angka 5,2 persen.

Dari angka itu, sektor UMKM memiliki andil yang sangat besar. Hal ini tak lepas dari data BPS yang menyebutkan jumlah unit usaha UMKM mencapai 59,2 juta atau 99 persen dari total unit bisnis yang eksis di Indonesia.

Namun demikian, dari jumlah di atas, 80 persen masih belum terlayani oleh lembaga keuangan formal.

“Kita punya harapan untuk memberikan subsidi bunga KUR yang saat ini mencapai 9 persen per tahun menjadi 7 persen per tahun di bulan Januari 2018 mendatang,” janjinya.

Kepala Departemen Regional II Bank Indonesia, Dwi Pranoto menjelaskan, selama ini persoalan yang membelit dunia bisnis UMKM Indonesia tak lepas dari masalah permodalan dan pemasaran.

“Terlebih, terdapat problematika ‘missing in the middle’ atau kesulitan untuk bergerak naik. Padahal, negara lain sudah memiliki kekuatan utama di bagian tengah dari sektor tersebut. Maka dari itu, harapan kita akan terjadi penurunan bunga kredit di angka kurang lebih 7 persen per tahun,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *