Joko Santoso: Pemuda Pancasila Bukan Organisasi Preman

SEMARANG (asatu.id) – Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Kota Semarang Joko Santoso menegaskan, PP merupakan lembaga dan organisasi massa berbasis pengkaderan bukan organisasi preman. Dengan meningkatkan aktivitas sosial, pihaknya berkomitmen ingin melepaskan stigma negatif itu.

Penyebutan organisasi preman yang beberapa puluhan tahun silam melekat pada nama organisasi Pemuda Pancasila, kata Joko, sudah saatnya untuk dipangkas habis. “Jangan sampai organisasi yang didirikan pertama kali oleh Abdul Haris Nasution pada tanggal 28 Oktober 1959 itu, masih melekat stigma negatif di balik nama dan citra organisasinya,” ujar Joko, di Semarang,  Kamis (16/11).

Selain itu, Joko berkomitmen menjadikan PP dengan perwajahan baru yang lebih natural, terpelajar, terdidik, intelektual, dan berorientasi pada upaya pengembangan mutu, kualitas, serta kuantitas SDM dalam upaya untuk mendukung kesuksesan program pembangunan di segala sektor.

Ia mengakui, jika anggotanya berasal dari beragam profesi. Hal ini karena organisasinya telah mendapat perhatian dan terus berkontribusi di masyarakat. Namun kegiatan yang dilakukan, kata dia, tidak melulu upaya peningkatan kualitas internal organisasi, tetapi kegiatan sosial juga diselenggarakan.

”Untuk menepis stigma negatif, kami terus lakukan kegiatan positif yang dibutuhkan masyarakat. Untuk itu saatnya kini gunakan akal bukan okol,” ujarnya.

Jajaran pengurus organisasi Pemuda Pancasila di semua tingkatan, lanjutnya, harus mampu menjadi panutan, suri tauladan di tengah-tengah lingkungan kehidupan masyarakat .

“Seluruh jajaran pengurus dan kader organisasi PP Semarang harus senantiasa bersandar dan berpedoman pada nilai-nilai luhur Pancasila,” tukasnya. (is)

 

 

33

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan