19 Persen Anak Semarang Tak Kenyam Pendidikan SLTP

SEMARANG (asatu.id) – Data Biro Pusat Statistik (BPS) di tahun 2015 menyebutkan sebanyak 19 persen anak di Kota Semarang tidak sekolah di tingkat SLTP. Angka tersebut menunjukkan, 81 persen anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Kota Semarang, antara 12 tahun sampai 15 tahun, yang bisa mengenyam Pendidikan tingkat SLTP.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat memimpin upacara di SMP Negeri 7 Kota Semarang, Jalan Imam Bonjol, Senin (13/11).

Wali kota yang akrab disapa Hendi ini menyatakan, terdapat berbagai alasan dan persoalan yang mengakibatkan anak-anak usia SLTP tidak bisa mengenyam pendidikan SLTP tersebut. Mulai dari persoalan IQ atau kecerdasan anak atau pun persoalan ekonomi sang orangtua.

Hendi menceritakan jika dirinya pernah bertemu dengan anak yang tidak mau sekolah SLTP dan hanya menjadi buruh kuli panggul di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang untuk mendapatkan uang.

“Di Semarang Utara saya ketemu anak muda saya tanya, sekolah nggak? Nggak Pak. Lho kenapa? Kamu usia berapa? 14 tahun. Kalau nggak sekolah ngapain? Pak, saya setiap pagi ke Pelabuhan Tanjung Emas. Saya jadi kuli panggul, sehari saya dapat Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Kalau sekolah nggak dapat seperti itu. Jadi, sudah cukup puas dengan uang sehari Rp 50 ribu. Tapi dia tidak ngerti bahwa kehidupan akan berjalan sampai umur 50 tahun, 70 tahun bahkan 80 tahun,” terangnya.

Selain itu, Ia juga bernasehat kepada anak-anak yang telah mengenyam sekolah hingga pendidikan untuk bersyukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan, sehingga mampu mengenyam pendidikan di sekolah, di mana bisa bermain dan belajar dan terus belajar demi masa depan.

“Adik-adik harus merasa beruntung, masih bisa sekolah di sekolah yang luar biasa hebatnya. Jangan selalu melihat ke atas, waduh, sering ngeluh sama orang tuanya,” imbuhnya.

Hendi mengajak seluruh warga Kota Semarang untuk bersama-sama melakukan program pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan cara mendorong anak muda untuk tetap semangat bersekolah.

“Pemerintah Kota Semarang dibantu oleh tangan warga di Kota Semarang berupaya mengatasi persoalan itu. Caranya gimana? Terus mendorong generasi di Kota Semarang bisa senantiasa belajar, belajar dan belajar untuk kemudian di masa depan bisa membangun kota ini lebih Hebat lagi,” tukasnya. (is)

45

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan