Melampaui Fotografi Bersama Suherry Arno

SEMARANG (asatu.id) – Galeri Nasional Indonesia, D’Arno Gallery dan Mahavra menggelar pameran fotografi tunggal Suherry Arno, di Galeri Nasional Indonesia, 24 Oktober – 5 November 2017. Pameran dengan judul “Melampui Fotografi” dikuratori Jim Supanggat dan Arbain Rambey ini menampilkan karya-karya fotografi hitam putih dari Suherry Arno.

Menurut Suherry Arno, secara teknis pada pemotretan, cara digital lkini jauh lebih maju. Kepekaan cara digital juga sudah jauh melebihi cara analog. Pada kepekaan setara ISO 16000, film yang ada saat ini sulit menghasilkan imaji halus. Sedangkan film besar sudah tidak ada yang punya ISO tinggi, juga sudah jarang yang membuatnya.

“Jadi, secara pemotretan umum, sistem analog sudah ketinggalan dibandingkan sistem digital manakala tolak ukur yang dipakai adalah film ukuran kecil. Pada film-film pelat ukuran besar, kehalusan gambar yang dihasilkan sistem analog masih pemukau, namun kamera yang dipakai sungguh-sungguh sangat besar, sampai sebesar  televisi tabung ukuran 40 inci,” paparnya.

Suherry mengatakan dalam proses cetak, sistem analog mampu menghasilkan nuansa cetak yang rasanya sampai kapan pun tidak bisa disaingi cetak digital. Cetak digital hanya memakai tinta mudah pudar, kala terkenal sianr UV berkepanjangan.

“Cetak digital tidak bisa memberi penampilan kontras semewah hasil terbakarnya aneka senyawa perak pada kerta sfoto konvensional, terutama pada cetakan besar,” ujarnya.

Selain  itu, lanjut dia, cetak analog masih mengenal cetak karbon, cetak platinum dan cetak polimer yang masing-masing rasa penampilannya tak akan bisa ditiru tinta cetak sistem digital.

Realitas

Suherry menambahkan melampui fotografi bukanlah sebuah representasi dari realitas seperti kebanyakan foto pada umumnya. Dari karya-karyanya, dia cenderung mengolah aspek rupa, membuat foto-fotonya keluar dari batasan paling umum tentang fotografi, yaitu rekaman realitas. Di balik realitas yang direkam, ia justru mengembangkan bahasa visual pada foto-fotonya.

Pada foto-fota yang dipamerkan, Suherry Arno memperlihatkan perubahan progresif, namun tidak kentara yang berpangkal pada pengolahan berbagai aspek visual. Bukan hanya siasat pemotretan, perubahan ini muncul dari pengolahann panjang yang melibatkan proses kamar gelap dan pencetakan foto.

Di mata Suherry, pemotretan ditentukan olah hasil akhirnya dalam bentuk print. “Bukan sebagai hasil pemotretan, tapi sebagai hasil akhir terbaik yang dapat diciptakan,” paparnya.

Kenyataan ini membuat Suhery merasa harus menjalani sendiri proses di kamar gelap dan pencetakan agar tidak kehilangan kemungkinan dalam mencari hasil akhir yang terbaik.

Soal proses, Suherry mempraktekkan fotografi secara total. Dia tidak lagi mempersoalkan perbedaan antara fotografi analog dan digital, tapi justru menggabungkan keduanya.

Berbekal pengalaman berguru pada pakar dari Indonesia dan Amerika Serikat, Suherry Arno menjelajahi kemungkinan-kemungkinan dari berbagai proses yang rumit dan langka.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *