Sampah Plastik Hambat Pengelolaan Laut Indonesia

SEMARANG (asatu.id)  – Sampah plastik menjadi ancaman dan hambatan dalam mengelola laut di Indonesia. Meski berbagai usaha untuk mengurangi sampai terus dilakukan, termasuk membangun pembangkit listrik berbasis sampah, namun limbah industri itu terus menjadi masalah.

“Wilayah perairan nusantara yang melebihi luas daratan merupakan warisan maritim yang harus dikelola dengan baik. Namun, untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim tidaklah mudah. Persoalan sampah plastik kini semakin menjadi ancaman laut kita,” kata Deputi I Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Arif Havas Oegroseno saat menghadiri Sosialisasi Implementasi Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, di Gedung Grhadhika Bhakti Praja, Kamis (26/10).

Menurut Oegroseno, 80 persen sampah plastik yang mencemari laut Indonesia berasal dari daratan. Sampah yang masuk ke sungai kemudian mengalir ke laut, karena tidak dikelola dengan baik.

Dari data yang ada, Oegroseno membeberkan ada sepuluh negara pembuang sampah plastik ke laut terbanyak di dunia. Sebagian besar di antaranya adalah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Negara-negara yang menjadi juara dunia dalam membuang plastik ke laut, yaitu Cina, Indonesia, Filipina, Vietnam, Sri Lanka, Thailand, Mesir, Malaysia, Nigeria dan Bangladesh. Mayoritas Asia Tenggara dan Asia Timur,” ujarnya.

Dia mengakui pengelolaan sampah plastik di tanah air masih tertinggal, karena anggaran untuk pengelolaan sampah di Indonesia hanya enam dolar per orang. Sebaliknya, anggaran untuk pengelolaan sampah di negara lain mencapai 15 dolar per orang.

“Kenapa pengelolaan sampah kita tidak baik? Karena belum sesuai dengan rata-rata standar Internasional. Di dunia itu standar pengelolaan sampah per orang itu 15 dolar AS. Sementara Indonesia hanya enam dolar AS per orang,” jelas Oegroseno.

Dia juga mengungkap fakta tentang hasil riset dua perguruan tinggi tentang kondisi ikan yang hidup di perairan Makassar dan Amerika Serikat. Ikan di kedua negara tersebut ternyata mengonsumsi sampah plastik.

Menghadapi ancaman sampah plastik tersebut, kementerian koordinator bidang maritim berupaya menyelesaikan usulan peraturan presiden tentang percepatan pembangunan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah.

“Kementerian koordinator bidang maritim menyelesaikan usulan perpres tentang pusat listrik tenaga sampah dan Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang kita jadikan pilot project. Selain itu, kami melakukan pengelolaan sampah plastik menjadi BBM. Dua hari yang lalu saya menerima investor yang datang dari Australia. Dia mampu memanaskan plastik 400 derajat menjadi solar dan premium yang siap pakai,” lanjutnya.

Sementara Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP menegaskan, perlunya langkah serius untuk menyelamatkan laut Indonesia dari sampah plastik. Apalagi limbah plastik bisa didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.

“Daerah-daerah hulu di muara laut harus diperhatikan. Karena kita (Indonesia) ternyata (negara yang membuang sampah plastik ke laut terbanyak) nomor dua setelah China. Kalau tidak diperhatikan ini jadi polusi plastik yang membahayakan. Kita harus ambil langkah-langkah. Ke depan saya minta Dinas Lingkungan Hidup merumuskan kebijakan apa yang bisa tanggulangi,” tandasnya.

 

21

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan