Pemkot Semarang Dorong Petani Produksi Beras Analog

SEMARANG (asatu.id) – Pemerintah Kota Semarang terus mendorong produktivitas lahan hijau di wilayahnya. Salah satunya dengan berinovasi mengembangkan lahan hijau sebagai wisata alam.

Di sisi lain, Pemkot juga mendorong para petani untuk berinovasi terhadap hasil pertanian dengan mengolah produk baru agar lebih diminati masyarakat. Kebijakan itu sebagai komitmen Walikota Semarang Hendrar Prihadi guna mengimplementasikan Hari Pangan Sedunia Ke-37.

“Pemkot Semarang  akan memberikan pendampingan kepada para petani singkong di Kota Semarang untuk memproduksi beras dari singkong,” kata Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi, di Semarang, Jumat (27/10).

Untuk tugas pendampingan para petani tersebut, menurut walikota, pihaknya telah menunjuk Dinas Ketahanan Pangan. Pada tahap awal difokuskan pada empat kecamatan, yaitu Kecamatan Mijen, Gunungpati, Tugu, dan Ngaliyan.

“Jadi namanya ini beras analog. Sama seperti beras seperti biasanya, rasanya juga sama, hanya bukan dari padi, tetapi dari singkong, seperti yang disajikan saat ini,” jelas Hendi.

Menurut Walikota, jika pembuatan beras anolog ini dilakukan secara massal oleh kaum petani, hal ini bisa menjadi potensi yang besar bagi industri agrikultur di Kota Semarang.

Hendi menerangkan, konsumsi beras di Indonesia sangat tinggi, lebih dari 100 kilogram/kapita/tahun. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata konsumsi beras dunia 60 kilogram/kapita/tahun.

“Kita tahu bersama produksi beras dari padi di Indonesia kondisinya semakin tidak mampu memenuhi, sehingga kesempatan ini harus diambil oleh petani singkong untuk lebih berdaya melalui beras analog,” tukasnya. (is)

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *