Lewat Limbah Logam, Indaryanto Ciptakan Karya Seni Bernilai Jual Tinggi

SEMARANG (asatu.id) – Keresahan melihat sesuatu yang tidak mengenakan di hati dan jiwa terkadang memberikan ide untuk melakukan sesuatu.

Hal itulah yang ditunjukkan Indaryanto (42). Pria yang akrab disapa Ind ini, sempat resah ketika melihat limbah logam di laci lemarinya yang berserekan tak terurus.

“Pas bersih-bersih rumah lihat sisa logam-logam, tapi bingung saat itu mau diapakan, sayang juga kalo dibuang,” ujarnya saat di temui di acara Pazaar Seni 2017, di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, baru baru ini.

Dari situ akhirnya pada 2009, dia mencoba mengasah kemampuan membuat kerajinan dari logam-logam bekas. berulang kali dia gagal dalam merangaki logam menjadi bentuk bidang berdiri dan sampai akhirnya menemukan formula terbaik.

“Awal pakai lem sampai akhirnya pakai solder patri timah, karena lebih kuat dan rapi dan terbentuklah karya pertama yaitu mobil,” ujar pria yang tinggal di Jalan Anjasmoro Tengah VI No.48 Semarang ini.

Dia mengaku terobsesi mengolah limbah logam karena limbah tersebut memiliki nilai jual tinggi ketika sudah terbentuk karya seni.

“Sebelumnya bergelut diranting kayu, batu krikil namun melihat kerajinan itu sudah biasa, saya coba limbah besi dan memang saat itu belum ada, dan akhirnya sampai saat ini saya geluti,” jelas kata pria yang hanya lulusan SLTA di Semarang ini.

Karya dari limbah logam yang dia ciptakan di antaranya dari gantungan, gelang, mobil, motor hingga robot setinggi 50 cm, termasuk robot Gatutkaca yang merupakan karya terbaiknya.

“Kalo saya buat sesuai tren, kebetulan saat ini trennya transfomer jadi saya buat dari ukuran kecil sampai agak besaran,” paparnya.

Ind mengaku untuk membuat satu robot transformer membutuhkan waktu 10 jam, bahkan 5 hari menyelesaikan karya limbahnya, tergantung kerumitan dan banyaknya bahan yang digunakan.

“Harganya bervariasi dari Rp 20.000 hingga Rp 2 juta untuk yang robot transformer,” pungkasnya

Karya Indaryanto kini sudah diminati dari kolektor dan pecinta seni mancanegara.

“Pas pameran di Jakarta tahun lalu dari Jepang, Belanda tertarik untuk memesan dengan ukuran yang besar, juga saat pameran di Jepara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung beli karya saya yang kebetulan karya kebanggaan saya waktu itu,” imbuhnya.  (isan)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *