Condro Sampaikan Maaf Atas Kekerasan Wartawan di Banyumas

SEMARANG (asatu.id) – Kapolda Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Condro Kirono secara langsung meminta maaf dihadapan media terkait adanya kekerasan saat pembubaran masa tolak PLT Panas Bumi Gunung Slamet di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Banyumas yang mengakibatkan 4 wartawan cetak dan elektorik menjadi korban.

“Kami atas nama Kapolda jateng, atas nama Kepolisian Negara Republik Indonesia menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tadi malam yang mengakibatkan korban luka-luka baik mahasiswa maupun dari media,” tegas Condro dalam konfrensi persnya di Akademi Kepolisan Semarang, Selasa (10/10).

Tadi pagi, pihaknya memerintahkan Kapolres, termasuk Intelejen dan Propam setempat yang sedang melakukan rapat kasatwil di Akpol untuk kembali ke Banyumas guna melakukan pengecekan SOP dalam prosedur pembubaran tersebut.

Jika memang ditemukan adanya kesalahan prosuder, SOP, disiplin, kode etik bahkan pidana, pihaknya akan memproses anggotanya yang terbukti melakukan kesalahan dalam melakukan pembubaran aksi tersebut.

“Kapolres Banyumas menyampaikan ke pada kami bahwa ada 4 orang yang memang dimintain keterangan. Secar menyuruh menunggu penyelidikan. Kami akan bertanggungjawab secara penuh terhadap kerugian yang dialami korban kekerasan tersebut,” pungkas Condro.

Menurut Condro, aksi tolak pembangunan proyek PLTPB Gunung Slamet digelar mulai pukul 09.30 WIB, Senin (9/10) Namun, jalannya aksi tersebut, dikatakan Condro tidak membuat pemberitahuan berlangsung hingga malam hari kepada kepolisian setempat.

Condro menceritakan, kala itu Polisi Banyumas sudah berdialog dengan peserta aksi agar mereka membubarkan diri pada pukul 19.00 WIB. Tapi hingga Pukul 20.00 WIB pun para demonstrans masih enggan membubarkan diri.

Sampai ahkirnya pada pukul 22.00 WIB para denonstrans mulai membangun tenda. Pihaknya pun kembali melakukan negosiasi dan mediasi. Namun tidak menghasilkan kesepatakan, karena tidak bubar ahkirnya dilakykan pembubaran secara paksa.

Untuk informasi, dalam aksi penolakan PLT Panas Bumi Gunung Slamet oleh kelompok masyarakat serta mahasiswa di Banyumas tersebut, aparat keamanan melakukan pembubaran secara paksa yang kemudian menimbulkan kontak fisik antara petugas dan peserta aksi.

Dari pembubaran paksa tersebut, terjadi lah kontak fisik antara petugas keamanan dan peserta aksi yang menimbulkan beberapa demonstran luka serta 4 wartawan dari media cetak dan eloktornik menjadi korban kekerasan dan kehilangan alat jurnalistiknya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *