Ganjar Ajak Petani Terapkan Sistem Informasi Pertanian

SEMARANG (Asatu) – Pemerintah Provinsi Jateng mengajak pelaku usaha sektor pertanian agar memanfaatkan sistem informasi komoditas pertanian. Penerapan sistem ini secara tepat dapat mendongkrak pendapatan para petani.

“Kalau sistem informasi pertanian bisa diterapkan para petani bisa menghitung jumlah komoditas dan keuntungan. Dengan sistem ini, kita bisa tahu siapa menanam apa, kapan, dan di mana. Misalnya kedelai ditanam di Gombong, bisa tahu kapan panennya. Nanti harganya kira-kira berapa,” kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Ajakan orang pertama di jajaran Pemprov Jateng kepada para petani untuk menerapkan sistem informasi ini dilontarkan pada dialog interaktif Mas Ganjar Menyapa bertajuk “Mengangkat Harkat Petani” di Rumah Dinas Puri Gedeh, Selasa (26/9).

Sebelumnya, Siti Aminah, salah seorang petani kedelai yang tinggal di Desa Karangrejo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, mengeluhkan anjoknya harga kedelai hasil tanaman petani saat panen raya. Pada musim labuhan, harga kedelai menurun drastis hinga di bawah Rp 5.000/kilogram.

“Harga kedelai pada musim panen raya, terutama pada musim labuhan, di bawah Rp 5.000 per kilogram. Bagaimana solusinya supaya harganya bisa naik dan bisa bersaing dengan kedelai impor?,” ujar Siti Aminah.

Dia  berharap adanya campur tangan Pemprov Jateng  agar petani, khususnya di Kecamatan Pulokulon tetap bersemangat dan mampu mempertahankan tanaman kedelai.

Mendengar pertanyaan itu, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH sebagai narasumber balik bertanya kepada Siti. “Bu Siti jualnya kedelai ke mana? Panjenengan jualan ke tengkulak nggih?” tanya Ganjar yang diamini Siti.

Gubernur tak menampik fakta di lapangan masih banyak para petani yang menjual hasil panenan ke tengkulak akibat dililit utang saat memulai usahanya. Padahal,  para tengkulak atau pengepul justru mendapat keuntungan berlipat-lipat dalam rantai perdagangan komoditas pertanian.

Fakta itu selaras dengan survei yang dirilis Bank Indonesia di mana tengkulak pertama bisa meraup keuntungan 100 persen atau lebih saat membeli komoditas pertanian dari petani.

Ganjar menambahkan, pemerintah dapat berperan sebagai perantara antara petani dengan konsumennya. Yakni dengan mendata siapa dan berapa konsumen potensialnya.

“Misalnya, koperasi tahu tempe di Jawa Tengah kita data. Kemudian kita menjadi perantara untuk mempertemukan petani dengan siapa penggunanya. Sehingga tidak melalui perantara yang terlalu banyak. Ketika nanti petani kedelai akan panen, siapa nanti yang akan membeli dengan harga yang pantas,” terangnya.

Pada kesempatan itu mantan anggota DPR RI  memperkenalkan e-commerce bernama regopantes yang memperdagangkan komoditas pertanian berkualitas dari para petani.

Menurutnya, regopantes.com mampu mendorong etika perdagangan komoditas pertanian yang adil atau fair trade, sekaligus memangkas rantai tengkulak atau pengepul.

Di satu sisi, petani ditantang untuk mampu menjual komoditas pertanian unggulan. Di sisi lain, konsumen memeroleh komditas pertanian berkualitas dan membelinya dengan harga yang layak.

“Keuntungan yang bisa diraup petani apabila berdagang komoditasnya secara online bisa mencapai lebih dari 100 persen,” ujarnya. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *