Bencana Kekeringan, Blora dan Wonogiri Terparah

SEMARANG (asatu.id)  – Kabupaten Blora dan Kabupaten Wonogiri menjadi daerah terparah akibat bencana kekeringan yang melanda selama tahun 2018. Selain, dua daerah tersebut 30 daerah lain juga ditetapkan sebagai daerah berstatus darurat kekeringan.

Akibat musim kemarau yang berkepanjangan daerah-daerah tersebut diperkirakan mengalami dilanda kekeringan hingga Oktober mendatang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, di Semarang, Jumat (22/9), mengatakan bencana kekeringan mulai terdeteksi di sejumlah daerah sejak 15 Agustus lalu. Bencana ini bakal merembet hingga 31 Oktober.

Pasokan air bersih di Blora dan Wonogiri semakin menipis. Minimnya curah hujan yang mengguyur kedua wilayah tersebut membuat persediaan air bawah tanah menjadi kurang, sehingga air bersih menjadi barang yang langka.

Untuk mengatasi dampak fenomena lama ini, dia mengaku sudah mempersiapkan perencanaan sejak Juni lalu. Segala langkah awal untuk mengurangi penderitaan masyarakat akibat minimnya persediaan air bersih, jajaran instansi terkait diminta stand by guna melakukan droping air bersih sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Jajaran pemkab dan pemkot dalam kondisi stand by untuk menyalurkan bantuan air bersih yang dibutuhkan masyarakat,” kata Ganjar.

,Ganjar mengatakan Pemprov Jateng kini bekerja ekstra keras mengantisipasi bencana ini agar tidak meluas ke daerah endemik kekeringan. “Solusi terbaik saat ini, ya mendroping air bersih di daerah-daerah kekeringan,” ujarnya.

Solusi jangka panjang, lanjut dia, pemprov akan mengonservasi sumber-sumber air dan membangun waduk-waduk kecil di daerah Jateng yang rawan kekeringan. Kepala daerah yang daerahnya menjadi langganan kekeringan telah diinstruksikan untuk melakukan kebijakan tersebut.

Di sisi lain, Pemprov Jateng juga melakukan penyambungan pipa-pipa air bersih dan sumur-sumur darurat di tiap daerah rawan kekeringan. Kendati demikian, langkah pemprov ini sifatnya hanya darurat, lantaran bencana ini merupakan fenomena alam.

Droping

Menindak  lanjuti instruksi gubernur, Pemkab Boyolali melalui PLN Area Klaten melakukan droping air bersih ke warga Desa Candi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jumat (22/9). Dipilihnya Desa Candi ini karena daerah ini mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau panjang.

Manager PLN Area Klaten Aris Edi Susangkiyono secara simbolis menyerahkan enam truk tangki kepada Plt Kades Candi Gunanto.

Gunanto mengatakan bantuan air bersih ini sangat dibutuhkan warganya. Desa Candi saat ini dihuni sekitar 1.300 KK. “Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan ini,” katanya.

Menurut dia, air bersih bantuan dari PLN ini rencananya akan dibagi-bagikan kepada penduduk yang benar-benar membutuhkan. Sistem pembagian dilakukan perangkat desa dan pihak-pihak terkait.

Manager PLN Area Klaten Aris Edi Susangkiyono mengatakan, kegiatan ini sebagai lanjut BUMN peduli dan hadir untuk Negeri. Pihaknya ingin membangun kepedulian terhadap kesulitan warga yang terdampak kekeringan.

Program bantuan air tidak hanya dilakukan di Cepogo saja, wilayah lain yang membutuhkan bantuan air juga diberikan bantuan. “Program ini terus bergulir (ke wilayah lain),” tandasnya. (is)

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *