Sri Menilai Pedagang Belum Dapat Tempat Relokasi

Sri Menilai Pedagang Belum Dapat Tempat Relokasi

SRI PROTES : Sri salah satu pedagang Pasar Kanjengan memprotes keputusan Pemkot Semarang yang tak memberi tempat relokasi bagi para pedagang bongkaran (dyan/asatu.id)

SEMARANG (Asatu.id) – Seorang pedagang Toko Emas Pasar Kanjengan, Sri Suhartingsih alias Nunuk, melakukan protes dengan berteriak histeris dalam eksekusi Pasar Kanjengan, Rabu (23/8). 

Saat ditanya pewarta, dia mengatakan tidak diberi kesempatan berbicara saat setelah isi putusan dibacakan. Menurutnya, ia tidak mempermasalahkan jika Pemkot Semarang mau eksekusi Pasar Kanjengan. Tetapi ia meminta agar eksekusi sesuai dengan prosedur hukum, termasuk memberikan tempat yang layak bagi yang terkena dampak.
Pihaknya menceritakan, saat dirinya menghadap Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, kemudian Kepala Dinas Perdagangan Fajar Purwoto ditelepon oleh Supriyadi dan didengarkan semua pihak melalui pelantang.
“Saya dengar sendiri, Pak Fajar bilang soal relokasi sudah selesai dan dibereskan semua. Tapi faktanya belum. Tanyain pedagang, mumpung di sini semua. Nanti dikira saya provokator,” ujarnya.
Dia menambahkan, ada sebanyak kurang lebih 800 pedagang Kanjengan hingga kini belum mendapat kejelasan tempat relokasi.
“Bayangkan, mereka ini memiliki 3-4-5 anak, itu mau makan apa? Belum ada tempat relokasi, silakan cek, tanya pedagang, saya nanti dituduh sebagai provokator,” imbuhnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan rekapitulasi jumlah pedagang Kanjengan, di Blok C ada 36 pedagang, yang sudah registrasi di tempat relokasi sebanyak 31 pedagang dan pedagang yang sudah mengambil undian 25 orang. Sedangkan di Blok D, jumlahnya 34 pedagang, yang sudah registrasi  13 orang dan sudah mengambil 8 orang. Sedangkan untuk pedagang Pancakan ada 828 orang.
Fajar membantah soal warga yang menyatakan bahwa saat ini belum disediakan tempat relokasi.
“Sudah ada relokasi, semua di sana (kompleks MAJT). Hanya ada 1-2 provokator yang mengomplain itu hal biasa, wajar, silakan. Bahkan kalau tempat relokasi tidak muat, mau menempati di pasar mana saja, saya persilakan. Di Semarang ada 48 pasar,” ujarnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *