Keterbatasan Bukanlah Kendala Untuk Melestarikan Kebudayaan Jawa

SEMARANG (asatu.id) – Nama gadis belia ini adalah Ariel Saptawulan Fitrini, saat ini dia duduk di sekolah menengah tingkat pertama di SMPLB Dria Adi Semarang.

Ariel lahir pada tanggal 27 Mei 2004 yang silam, ia terlahir prematur sehingga harus ditempatkan didalam incubator.

Sayangnya pencahayaan didalam incubator tersebut justru membuat syaraf penglihatnya rusak, sehingga ia mengalami kebutaan pernanen.

Ariel gadis yang luar biasa, didalam kekurangannya tersebut Tuhan memberinya anugrah istimewa.

Yaitu suara yang sangat merdu, sehingga ketika ia bernyanyi atau sedang menyinden banyak yang kagum padanya.

Sejak kelas 3 sekolah dasar, Ariel memang sudah menyukai karawitan dan ingin sekali melestarikan kebudayaan tersebut.

Bahkan dalam ekstra kulikuler sekolah pun, ia memilih bidang tersebut.

Saat ini Ariel telah bergabung di Komunitas Sahabat Difabel, dan menjadi satu – satunya generasi muda yang menyukai tradisi jawa.

Bahkan sejak bergabung dalam komunitas tersebut, banyak kegiatan yang telah ia ikuti dan menambah wawasannya.

Tak heran jika sekarang banyak publik yang mengenal sosoknya, dan sampai merinding bulu romanya saat mendengarkan suara Ariel nembang yang tak kalah merdu dengan suaranya sinden Nurhana.(Anna Okta)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *