Suparman Dapat Bernafas Lega Setelah Rumahnya di Renovasi

SEMARANG (asatu.id) – Supardi dan Suparman dua kakek warga dusun Delik Rejosari, Kelurahan Kalisegoro, di pertengahan tahun 2017 ini bisa tersenyum lebar.

Pasalnya, kakak dan adik yang sebelumnya harus tinggal satu rumah panjang di RT 3 RW 3, warisan orang tuanya saat ini sudah bisa memiliki rumah sendiri.

Tentu bukan karena beli rumah baru. Namun, karena program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 99 yang digelar Kodim 0733/BS Semarang membuat rumah Supardi bisa dipisahkan.

“Sekarang rumah sudah bisa dipisah. Jadi tidak harus tinggal satu rumah panjang,” aku Supardi sembari ikut mengerjakan bangunan rumah yang dilengkapi dengan lima kamar.

Bahkan, saat melakukan pemotongan rumah panjangnya dikerjakan puluhan tentara. juga saat membangun dari rumah kayu menjadi rumah tembok yang gagah.

“Ngak cuma senang, tapi sangat bersyukur. Jika dihitung nilainya bisa sampai ratusan juta. Modal saya cuma tenaga bersama dua anak saya tambah keluarkan minum.

Jika dihitung nilai pengeluaran sampai rumah hampir jadi seperti ini ngak lebih dari satu juta,” akunya.

Program rumah tidak layak huni (RTLH) Supardi mendapatkan alokasi dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja derah (APBD) Kota Semarang.

“Alokasi dananya hanya Rp 10 juta. Tapi jika dihitung nilai material yang dikeluarkan saat ini lebih berkisar Rp 150 juta. Kenapa bisa semua karena kerja sama yang dikoordinir dari anggota tentara Kodim,” ungkapnya.

Dengan modal Rp 10 juta, ditambah pembangunan dengan cara gotongroyong manunggal TNI dengan warga jadi bisa menghemat jutaan rupiah.

“Terus untuk kekurangan biaya dilakukan saweran. Jadi bisa terkumpul sampai Rp 150 juta,” ungkapnya.

Pelaksanaan TMMD, Pasiter Kodim 0733/BS Semarang mengungkapkan kekuatan bersama menjadikan pekerjaan jadi lebih mudah dan murah.

“Setelah dibangun, tentu warga bisa hidup di rumah yang lebih layak huni,” ungkapnya.(Yoga Arif)

44

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan