Hay Mom, Anak Anda Pintar Main Gadget, Jangan Bangga Dulu

Ilustrasi

SEMARANG (asatu.id) – Hay Mom, di zaman yang serba digital ini dirasa wajib bagi kita untuk tak lepas dengan yang namanya gawai (gadget), tak terkecuali anak-anak sekalipun. Nah mom, jangan bangga dulu ya jika anak kita mahir dalam menggunakan gawai yang dia mainkan.

Usut demi usut saat asatu.id berkonsultasi dengan salah satu pakar telekomunikasi Kharisma Ayu Febriana, S.I.Kom., M.I.Kom menuturkan, beberapa hal mengejutkan loh. Ada banyak bahaya yang menghantui anak, ketika anak terlalu banyak menggunakan gawai, baik dari segi kesehatan, segi psikologi, segi emosional serta lainnya.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Semarang itu mengungkapkan, penggunaan gawai berlebih dapat mengurangi kemampuan interaksi sosial pada anak loh.

Dia menjelaskan, terdapat sebuah artikel yang diterbitkan di The New York Times, dengan penulis buku iBrain: Surviving The Technological Alteration of The Modern Mind dan Direktur Longevity Center di Universitas California Dr. Gary small mengatakan, bahwa ketika anak-anak trlalu banyak menghabiskan waktunya dengan teknologi, hal ini akan mengurangi interaksi dan komunikasi pada anak.

Kharisma Ayu Febriana, S.I.Kom., M.I.Kom

“Hal itu memang benar dan sering kita jumpai di lingkungan sekitar kita, kebanyakan anak-anak yang asyik dengan gadgetnya itu memiliki sikap yang cuek dan tidak senang bermain dengan anak lainnya,” jelasnya saat berbincang-bincang dengan asatu.id disela-sela kesibukannya, Rabu (3/5).

Menurutnya, untuk mendapatkan manfaat dari gawai, orangtua harus berperan aktif mengarahkan anak dalam menggunakan gadget sebagai media pembelajaran. Seperti ketika anak belajar bahasa Inggris dapat menggunakan gadget atau belajar mengenal jenis-jenis binatang dengan menggunakan gadget, lanjutnya.

“Dan harus di tekankan bahwa gawai ini “milik mamah”, sehingga anak tidak dapat seenaknya dalam menggunankan gawai tanpa izin dari orangtua. Hal ini gunanaya agar orangtua memiliki kontrol yang baik dalam menggunakan teknologi untuk anak,” lanjut dia lagi.

Menurutnya, akan sangat susah jika anak sudah “kecanduan” gawai. Karena melalui beberapa pengamatannya jika anak sudah kecanduan lalu ketika si anak ingin bermain gawai namun tidak dituruti maka dia akan mengancam orangtuanya kalau dia tidak mau mengerjakan PR, tidak mau makan, bahkan menangis histeris dan bertriak-triak.

“Sebaiknya orangtua dapat mencegah sebelum anak kecanduan dengan menjadi orngtua yang cerdas. Terapkan aturan di rumah, seperti boleh menggunakan gadget pada hari minggu saja, di batasi waktu dan kegunaannya sehingga anak akan terbiasa,” himbaunya.

Untuk menyikapi rasa ingin tahu anak, tambah dia, orangtua harus berperan dalam memberikan penjelasan pada anak bahwa gawai hanya sebagai sarana belajar, dan selebihnya jangan perkenalkan anak dengan game-games didalamnya.

“Terapkan aturan yang jelas bagi anak, sehingga anak menjadi pribadi yang disiplin dalam nenggunaan gawai sesuai dengan aturan orngtua. Jika anak sudah kecandua, alihkan perhatiannya ke hal lain, seperti ajak anak ke taman bermain untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya, atau belikan buku-buku bacaan bergambar untuk mewarnai,” pungkasnya.

Dia menambahkan, menurutnya permainan anak yang baik bagi anak adalah permainan yang dapat mengasah motorik anak dan permaian yg ada di alam. Dengan itu anak akan lebih mampu berinteraksi serta berkomunikasi secara baik dengan lingkungan sekitar. Bahkan dapat menumbuhkan rasa toleransi dengan temannya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *