Hilangkan Vandalisme Dengan Aksi Cat Ulang Kawasan Kota Lama Semarang

SEMARANG (asatu.id) – Berbagai acara diadakan untuk memeriahkan kawasan yang penuh bangunan-bangunan peninggalan belanda, namun sedikit yang memperhatikan kondisi bangunan tak terawat hingga dipenuhi coretan dari oknum tak bertanggung jawab.

Hal ini lantas melatar belakangi sekelompok mahasiswa D3 Hubungan Masyarakat Universitas Diponegoro, bekerjasama dengan pemerintah kota Semarang dan BPK2L melakukan kampanye kegiatan peduli pada vandalisme di tembok-tembok cagar budaya tersebut.

Ketua Panitia Acara Niko Damero, mengatakan, awalnya pihaknya hanya mensurvey lokasi untuk melihat acara apa yang bisa dibuat, namun yang dipandang hanya coretan nggak jelas di banyak bangunan,” ungkapnya di sela-sela kegiatan, Minggu (30/4).

“Nah dari situlah kami tergerak untuk bikin Heritage Needs Touch. kegiatan ini sekaligus dalam rangka kepedulian terhadap Kawasan Kota Lama yang dicanangkan untuk menjadi World Heritage oleh UNESCO tahun 2020 mendatang. Vandalisme adalah aksi yang merusak dan merugikan lingkungan,” ungkap Mahasiswa semester 4 asal Medan itu kepada asatu.id.

Menurutnya, Vandalisme sangat berbeda dengan Mural Art, dan cenderung kearah perusakan dan pencemaran. Apalagi dilakukan di Kota Lama yang menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Semarang.

Pada pelaksanaannya, ada 5 titik yang dibagi oleh Mahasiswa d3 humas untuk di cat ulang antara lain Jalan Garuda, Jalan Jalak, kawasan Letjend Suprapto, Jalan beranjangan, Jalan Kedasih. Menurut Niko, bangunan di kawasan ini yang banyak dipenuhi oleh vandalisme.

Kampanye peduli kota lama ini diikuti oleh Majelis Gabungan Pelajar Se-kota Semarang (Magapas) yang diharapkan mampu menggugah kesadaran anak muda khususnya di Kota Semarang, agar mau bersama-sama menjaga warisan yang ada.

Senada, Ketua Magapas Kevin Bramantyo siswa kelas 11 SMAN 11 Semarang juga mengakui bahwa kepedulian masyarakat khususnya anak muda pada kawasan cagar budaya masih kurang. Selain itu, pihaknya sebagai penyalur kepada siswa-siswi di sekolah se-Kota Semarang tergerak dalam kegiatan positif ini.

“Kurang lebih 90 anak, terdiri dari kelas 10 dan 11 yang kita ajak kesini. Karena ini kan kegiatan positif, dan sebaiknya menjadi agenda tahunan, karena sebagai aksi bersama menjaga kota lama,” bebernya.

Sekda Kota Semarang Adi Tri Hananto serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Nana Storada hadir di kesemaptan itu sebagai bentuk dukungan kegiatan positif ini. Dalam acara itu, turut diramaikan oleh Komunitas Serba Bisa yang melakukan live mural art sebagai percontohan seni grafis yang baik.

Asatu.id, Kota Lama Semarang, Semarang, vadalisme,

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *