Simoplas Resmi Ditutup, Pekerja Tuntut Kejelasan

Sejumlah pekerja PT Simoplas menggelar aksi demo (Imboh Prasetyo/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Ratusan pekerja PT. Simongan Plastic Factory (Simoplas) menuntut keadilan atas nasib mereka yang tidak jelas hampir satu tahun ini. Mereka meminta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) membantu mengatasi persoalan yang sudah berlarut-larut ini.

“Ini adalah mediasi lanjutan karena sebelumnya manajemen menawarkan 15 miliar untuk menyelesaikan permasalahan secara keseluruhan. Dari pekerja menolak diberikan 15 miliar karena untuk menutup gaji saja masih kurang padahal masih ada pesangon dan tunjangan lain-lain,” ujar Ketua Serikat Pekerja PT Simoplas, Ahmad Zainudin, kemarin.

Selain permasalahan gaji, hal tersebut juga sebagai upaya menuntut janji manajemen yang akan memberikan data hutang kepada para pekerja. Namun sampai saat ini, data tersebut belum diserahkan ke pihaknya maupun Disnaker sebagai mediator. Sehingga, ini merupakan upaya meminta manajemen menyelesaikan permasalahan sampai batas waktu paling lambat tanggal 30 Maret 2017.

“Hal mengejutkan datang ketika manajemen PT. Simoplas memberikan keterangan bahwa perusahaan akan resmi di tutup mulai 1 April 2017. Ini merupakan bentuk penghianatan PT. Simoplas yang mengindikasikan adanya upaya melarikan diri dari pihak perusahaan karena sebelum mediasi dimulai, para pekerja sudah memperingatkan pengusaha agar ada kemajuan dari mediasi sebelumnya,” menurutnya.

Zainudin menambahkan, seharusnya PT. Simoplas dapat menyelesaikan persoalan mengenai hak-hak ribuan karyawan yang terkatung-katung sejak April 2016 lalu berupa pelunasan gaji, THR, tunjangan maupun pesangon, barulah perusahaan dapat dihentikan operasinya/ditutup.

“Sebagian dari kami memang dipekerjakan kembali sekitar 700 orang dari jumlah awal 1900 orang. Namun, perusahaan masih memiliki hutang bagi teman-teman yang dipekerjakan meski tidak sebanyak yang 1200 orang. Jika memang akan ditutup, diharapkan perusahaan menyelesaikan seluruh hak-hak karyawan bukan malah lari dari tanggung jawab,” imbuhnya.

Sekitar 500 pekerja yang mengikuti aksi demo tersebut mengancam, akan melakukan tindakan yang sporadis, yaitu menduduki area perusahaan dan mengkapling-kapling tanah aset perusahaan yang berada di sebelah area pabrik jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi.

Rencananya, mediasi akan kembali dilakukanpada Rabu (5/4) mendatang, di ruang pertemuan Disnaker kota Semarang, dengan harapan segala permasalahan dapat segera terselesaikan dengan mengedepankan mufakat.

“Kita masih berusaha menahan diri, karena banyak hal yang sebetulnya bisa kita lakukan tapi masih mengedepankan musyawarah mufakat. Apabila tidak juga mendapatkan titik terang dan pengusaha tidak mau menangguhkan penutupan perusahaan, maka ancaman pekerja tersebut akan dilaksanakan,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *