Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 Berharap NKRI Harus Tetap Di jaga

SEMARANG (asatu.id) – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939, Parisadi Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, menggelar berbagai rangkaian kegiatan menarik. Belakangan ini, terlihat kesibukan dengan beragam aktivitas di Pura Agung Giri Natha Jalan Sumbing No. 12, Gajahmungkur, Semarang.

Tidak hanya upacara keagamaan saja, beberapa kegiatan sosial juga dilaksanakan oleh PHDI Kota Semarang di sekitaran Pura. Antara lain bakti sosial, donor darah dan pembagian sembako bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, menggandeng perwakilan umat beragama di Kota Semarang (FKUB) mengadakan penanaman mangrove di Tambak Lorok yang bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Semarang dan Kesbang Polimas.

Putu Adi Sutrisna, salah satu pengurus PHDI Semarang menuturkan, dua hari sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu akan melaksanakan upacara Melasti atau sembahyang laut yang diadakan di Pantai Marina Semarang. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk pengambilan tirta suci (air suci) yang akan digunakan untuk membersihkan dari segala keburukan.

“Satu hari menjelang Hari Raya Nyepi, di Pura Agung Giri Natha diadakan malam ngerupuk atau pengerupukan pada pukul 18.00 WIB. Malam pengerupukan merupakan upacara untuk pembersihan bumi serta dunia dari sesuatu yang kurang baik, menggunakan air suci serta membawa obor sambil mengelilingi pura,” terangnya.

Masuk pada Hari Raya Nyepi, imbuhnya, semua aktifitas yang berhubungan dengan duniawi akan ditinggalkan oleh umat Hindu yang dilaksanakan 24 jam mulai pukul 06.00 WIB keesokan harinya, di waktu yang sama (06.00 WIB).

“Kalau di Bali, festival Ogoh-Ogoh biasanya dliaksanakan satu rangkaian menyambut Tahun Baru Saka. Tetapi disini kita gunakan sebagai gongnya Hari Raya Nyepi. Karena ini adalah salah satu agenda Dinas Pariwisata Kota Semarang untuk menarik wisatawan dengan tagline “Ayo Wisata” yang menunjuk PHDI sebagai perwakilan”, imbuhnya.

Pawai Ogoh-Ogoh, tambah dia, nanti akan dibuka dengan Tarian Jawa, kemudian ditutup dengan Sendratari berjudul Arjuna Wibaha. Rangkaian kegiatan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kebersamaan dalam Kebhinekaan demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Di tahun Baru Saka ini atau sering disebut nyepi, kami (umat Hindu) berharap agar NKRI terjaga secara baik dengan keragaman yang ada,” pungkasnya.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *