Umat Hindu Semarang Adakan Tawur Agung

 

SEMARANG (asatu.id) – Telihat kekhusyukan menyelimuti Pura Agung Giri Natha, Semarang. Pura yang terletak di jalan Sumbing No. 12, Gajahmungkur itu dihadiri puluhan Umat Hindu yang berada di kawasan Semarang dan sekitarnya.

Pasalnya esok, Selasa (28/3), akan dilaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Ketua PHDI Kota Semarang, I Nengah Wirta Darmayana menyampaikan kepada asatu.idbagi umat Hindu Hari Raya Nyepi merupakan salah satu upacara penyucian diri serta ajang untuk mengevaluasi diri selama satu tahun ke belakang.

“Nyepi merupakan upacara penyucian diri serta ajang evaluasi diri selama setahun ke belakang, guna meningkatakan kualitas spiritual umat Hindu ditahun depan. Esensi dari Hari raya Nyepi adalah, menserasikan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia serta hubungan manusia dengan alam yang di implementasikan dalam bentuk upacara,” bebernya, Senin, (27/3).

Sebelum melaksanakan Catur Brata penyepian, tambah dia, umat Hindu membutuhkan konsentrasi yang bagus, kondisi serta hati yang harmoni. Guna memenuhi hal itu, dialakukanlah upacara Tawur Agung.

“Jika alam dan pikiran sudah harmoni, niscaya hidup kita lebih tenang. Maka itu, tadi kami melaksanakan upacara Tawur Agung yang bertujuan untuk mengharmonikan alam semesta maupun diri sendiri. Maknanya adalah mengharmonikan buta kala, sifat atau aura negatif dari alam semseta maupun tubuh kita,” jelasnya.

Masuk pada Hari Raya Nyepi, semua aktifitas yang berhubungan dengan duniawi akan ditinggalkan oleh umat Hindu selama 24 jam. Mulai pukul 06.00 WIB hingga 06.00 WIB keesokan harinya.

“Pada Catur Brata Penyepian, kami (umat Hindu) melaksanakan empat pantangan yaitu amati geni atau tidak menyalakan api, kedua amati karya berarti tidak bekerja atau menenangkan pikiran, amati lelungan atau tidak pergi kemana mana, keempat amati lelanguan atau tidak bersenang-senang. Hal tersebut kami lakukan dengan tujuan agar lebih fokus dalam melakukan evaluasi diri,” imbuhnya.

Upacara yang terlaksana mulai pukul 18.00 WIB itu dihadiri umat Hindu dari Semarang Utara dan Selatan. Sedangkan untuk umat Hindu bagian Semarang Timur melaksanakan upacara Tawur Agung di Pura Amarta Sari.

Untuk menyikapi toleransi Kebhinekaan, dalam upacara Hari Raya Nyepi umat Hindu melaksanakan Tri Hita Karana. Yang memiliki arti membuat hidup menjadi harmoni dengan tiga cara.

“Pertama, sebagai umat beragama harus yakin dengan ajarannya apapun agamanya, kedua harus harmoni terhadap sesama umat manusia karena sama-sama ciptaan Tuhan YME, ketiga harus memgharmonikan alam semesta yang sudah memberikan kehidupan bagi kita. Harapan kami, dengan melakukan penyucian diri serta Tri Hita Karana, kami (umat Hindu) dapat menjaga diri dan menjaga sikap. Yang terpenting adalah saling menjaga sesama anak bangsa maka kesatuan NKRI akan terjaga, sehingga cita-cita masyarakat Indonesia adil dan makmur dapat terwujud,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *