Pedagang Yaik Baru Minta Tidak Direlokasi

(Vedyana Ardyansah/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Pedagang Yaik Baru meminta Pemerintah Kota Semarang tidak merelokasi mereka ke lahan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Pedagang menilai jika direlokasi dalam jangka waktu yang lama para pedagang Yaik Baru akan bangkrut. Pedagang bersikukuh menginginkan tetap bisa berjualan selama proses revitalisasi Pasar Johar.

“Penolakan kami bukan tanpa dasar. Pembangunan yang dilakukan secara multi years itu kan butuh waktu lama, belum lagi kalau anggaran yang digelontorkan bila distop oleh pusat maka pembangunan pasti juga molor,” ungkap Sekretaris Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Unit Yaik Baru‎,Tohari, kemarin.

Pihaknya bersedia direlokasi, namun untuk sekarang pihaknya mengusulkan agar tetap bisa berjualan di Pasar Yaik Baru menunggu pembangunan alun-alun dilaksanakan.

“Jika dalam setahun dana cair Rp 100 miliar maka dibutuhkan waktu delapan tahun untuk membangun pasar. Jika direlokasi dalam jangka waktu yang lama itu para pedagang Yaik Baru bisa bangkrut,” katanya

Ia menerangkan, ketika Pasar Johar sudah jadi, pedagang yang saat ini ada di MAJT bisa menempati bangunan pasar baru tersebut. Sedangkan bangunan relokasi di MAJT tempat bekas pedagang bisa kami tempati pedagang Pasar Yaik Baru.

“Jadi pemerintah kan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membangun lapak darurat,” terangnya.

Menurutnya hal tersebut keputusan yang realistis. Meski nantinya pedagang Yaik Baru sedikit berkorban di relokasi tapi tidak dalam jangka waktu yang lama.

Wakil Ketua PPJ Unit Yaik Baru Slamet Santoso menambahkan, menurutnya, pembangunan alun-alun bisa dilakukan pada tahap terakhir. Apalagi bangunan Pasar Yaik Baru masih tergolong kuat.

Lebih lanjut ia menerangkan, dengan pedagang bisa sementara berjualan di pasar tersebut merupakan sebuah penghematan. Karena jika harus memindahkan pedagang harus membangun tempat relokasi.

“Kabarnya pembangunan lapak sementaranya sampai Rp 20 miliar lebih. Kami minta pedagang Yaik Baru diizinkan tidak direlokasi sampai bangunan Pasar Johar selesai dibangun,” pintanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mengakui bahwa pedagang yang berjualan di Pasar Yaik Baru belum terlalu urgent untuk direlokasi. Menurutnya, Jika direlokasi dalam waktu sangat lama, itu bisa mempengaruhi pendapatan pedagang yang cukup lama juga.

“Apalagi pedagang trauma dan berpikir relokasi seperti pedagang korban kebakaran Pasar Johar yang saat ini sepi dan banyak yang bangkrut,” imbuhnya saat meninjau Pasar Yaik Baru, kemarin.

Pihaknya mengingkan Dinas Perdagangan segera duduk satu meja dengan para pedagang Yaik Baru untuk menemukan jalan keluar dalam rencana relokasi tersebut.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *