BKKBN Beri Kulian UIN Walisongo Semarang

(Imboh Prasetyo/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Badan Koordinasi keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI menggandeng Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan kuliah umum dalam rangka Dies Natalis  yang ke-47 di Gedung Aula II Kampus III UIN Walisongo Jalan Prof. Hamka KM 1,5, Ngaliyan, Semarang.

Acara yang bertajuk revolusi mental sebagai dasar memperkuat karakter bangsa melalui program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK) guna mewujudkan generasi  muda yang berkualitas itu dibuka oleh Muhibbin selaku Rektor UIN Walisongo Semarang.

“Program KB merupakan program yang tepat untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga di Indonesia. Selain itu, dapat dijadikan prediksi dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Sehingga program dua anak, menjadikan patokan bagi keluarga bahagia, sejahtera, lahir dan batin,” tutur Muhibbin dalam sambutannya, Rabu (22/3).

Meski banyak pro dan kontra mengenai pembatasan kelahiran yang terkadang menimbulkan statement tertentu. Menurutnya, tepat jika BKKBN menggandeng Universitas Islam pada khususnya untuk mensosialisasikan program tersebut sebagai pencerahan serta memahamkan masyarakat bahwa perencanaan KB tidak melanggar aturan agama.

Masih menyampaikan, adanya program KB di era revolusi saat ini dirasa efektif sebagai bentuk penataan kepadatan penduduk di Indonesia. Tanpa adanya program KB, angka kelahiran semakin meningkat. Kasihan generasi penerus yang menerima imbas, jika keadaan bangsa pada segala aspek tidak segera diperbaiki.

“Oleh karenanya, UIN Walisongo menyambut baik kerjasama dengan BKKBN RI, guna mensosialisasikan serta ikut melakukan program yang terkait pemberdayaan masyarakat dengan gerakan revolusi mental”, tuturnya.

Tak kurang 700 mahasiswa nampak atusias dalam mendengarkan materi yang disampaikan langsung oleh Surya Chandra Surapatya, Kepala BKKBN RI. Dalam materinya, Surya menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan wujud dari pengenalan KB sejak dini, penurunan angka kelahiran penduduk, serta penguatan revolusi mental generasi muda.

“Revolusi mental itu membentuk karakter bangsa juga karakter manusia yang berintergritas, beretos kerja dan bersemangat gotong royong. Sehingga kita harus laksanakan revolusi mental berbasis pancasila dengan melakukan komunikasi segitiga. Dan perlu ditegaskan gerakan revolusi mental yang baru dimulai ini tidak memiliki anggaran, jadi terus aja tanpa proyek-proyekan,” tegasnya.

Selain itu, kegiatan ini juga berguna untuk menyampaikan informasi tentang program kependudukan KB dan pembangunan keluarga. Harapannya mahasiswa dapat menyampaikan kepada masyarakat.

“Saya senang bisa menjadi salah satu peserta kuliah umum yang menghadirkan Ketua BKKBN RI. Semoga kegiatan sosialisasi program KB tidak hanya di tingkat Universitas tetapi juga menyasar kalangan muda di daerah dan pinggiran. Karena pengetahuan mereka belum sebanyak kita yang duduk di bangku kuliah. Jadi pernikahan dini bisa teratasi, dan program KB berjalan merata di Indonesia,” pungkas Faristiadi mahasiswa Faskultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo, Semarang itu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *