KOTI Naikkan Level Permainan Tradisional ke Olahraga

(Istimewa/KOTI Semarang)

SEMARANG (asatu.id) – Dalam perhelatan open house yang digelar Labschool Unnes, Sabtu (18/3), ada satu komunitas unik yang terlibat, namanya Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI). Komunitas ini mengajak masyarakat untuk memainkan beragam permainan tradisional sekaligus berolahraga.

“Awalnya saya dan teman-teman sedikit khawatir kalau permainan tradisional lama-lama akan hilang karena kalah dengan gadget. Nah, bersama beberapa rekan lain terbentuklah KOTI Semarang sekitar 3 bulan lalu. Kalau pusatnya di Jakarta sudah ada sejak 2014 dan sudah diakui Kemenkumham,” papar Arif Ramadhana, Koordinator KOTI Semarang.

Tak hanya melestarikan permainan tradisional, KOTI juga ingin mengembangkannya sampai ke tingkat nasional dan internasional dan membentuk UKM untuk masing-masing olahraga.

Kegiatan KOTI Semarang tiap Sabtu adalah Dokar alias dolanan karo rembugan, bermain sambil berdiskusi. Secara bergantian tiap minggu mereka mendiskusikan permasalahan terkait permainan tradisional atau permainan tradisional yang baru dikenal.

Tak ketinggalan, setelah berdiskusi mereka melakukan simulasi permainan tersebut dengan melibatkan masyarakat sekitar.

“Simulasi permainan baru itu pertama ke anak KOTI dulu, baru abis itu main bareng warga sekitar. Markas kami ada di Cempakasari sama Trangkil. Biasanya mainnya di halaman auditorium Unnes, kalau nggak ya di sekitar situ, nyari lapangan yang agak luas,” lanjut Dhana.

Istilah olahraga menurut Dhana adalah bahasa yang mereka gunakan untuk menyebut peningkatan dari permainan tradisional yang sudah dibakukan secara nasional. Karena terkadang kita menemukan ada permainan yang sama di lokasi berbeda akan memiliki nama yang tak sama pula.

Permainan tradisional yang menjadi olahraga itu antara lain tarik tambang, hadang (gobak sodor, galasin), dagongan (semacam tarik tambang tapi dengan bambu dan saling dorong), egrang, dan terompah panjang (bakiak).

Meskipun baru terbentuk, KOTI Semarang berniat mengembangkan olahraga ini ke tingkat nasional dan internasional agar lebih dikenal, selain itu bisa menjadi ajang olahraga mudah dan murah dalam rangka mengajak masyarakat bugar berbudaya.

“Terkait dengan respon pemerintah, semoga kami diberikan space di tiap taman kota untuk lebih mengenalkan permainan tradisonal ini,” pungkas Dhana.

257

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Arif Ramadhana berkata:

    Trimakasih untuk muatan kabar beritanya..semoga seLaLu bermanfaat kedepan khususnya untuk perkembangan permainan tradisionaL d Semarang,Jawa Tengah dan Indonesia pada umumnya..

Tinggalkan Balasan