Semarangker Pemecah Mitos Mistik

SEMARANG (asatu.id) – Banyak diantara kita yang menghindari berbagai kegiatan yangbersinggungan dengan hal-hal gaib dan mistik. Namun berbeda dengan komunitas satu ini,Komunitas Semarangker namanya.

Komunitas yang berdiri sejak 13 Maret 2007 itu bahkan tak canggung dalambersinggungan langsung dengan hal-hal gaib dan mistik.

Erizawa, Sekertaris Jendral Semarangker sekaligussalah satu penggagas terbentuknya komunitas tersebut menyampaikan kepada asatu.id, awal mula terbentuknya Semarangker lantarandirinya merasa tak nyaman dengan berbagai cerita mistik yang berkembang di masyarakat dan bersifat meresahkan.

Melihat permasalahan yang terjadi, dirinya bersamakoleganya lantas membentuk komunitas tersebut.

“Berhubungan dengan dunia lain menjadi hal yang tak aneh lagi bagi kami. Komunitas Semarangker merupakan wadah untuk menyalurkan hobi bagi pecinta jelajah malam ke tempat-tempat mistik di malam hari,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjut Eri, pihaknya memiliki tujuan gunamembantu masyarakat dalam memecahkan mitos maupun misteri yang meresahkan.

“Kami mengajak masyarakat lebih pintar dan bijakdalam menyikapi fenomena gaib. Prinsipnya, kita tidak boleh melakukan penarikan mahluk gaib maupun hal-hal yang dianggap klenik,  tapi memecah mitos dan misteri secara nalar dan logika”, tuturnya.

Komunitas yang memiliki jumlah anggota sebanyak 120 orang ini, memiliki berbagai kegiatan demi menjaga eksistensi. Diantaranya, kegiatan jelajah malam, gathering anggota, bakti sosial serta mengikuti berbagai event yang ada.

“Kami berbeda dengan komunitas lain dalam penyebutan gathering, kami lebih suka menyebut Raticuker (Rapat Tirakat Jumat Keramat) setiap Jumat malam pukul  19.00 WIB,” bebernya.

Jelajah malam, imbuhnya, dilakukan minimal seminggu sekali pada hari yang telah disepakati semua anggota Semarangker baik secara internal maupun mengajak masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi.

Selain itu ada kegiatan bakti sosial yang dilakukan anggota Semarangker untuk membantu mereka yang membutuhkan.

“Tak lupa, kami juga berpartisipasi dalam setiap event yang diselenggarakan baik Pemerintah maupun Non-Pemerintah yang berfungsi untuk lebih mengenalkan Komunitas Semarangker kepada khalayak,” tambahnya.

Eri menuturkan kejadian unik yang pernah ditemui anggota Semarangker. “Dulu pernah ada laporan dari warga yang diresahkan oleh penampakan kuntilanak, terus kami meluncur ke TKP.  Setiap hari kita mengamati, memang ada bayangan putih yang muncul pada jam-jam tertentu. Setelah ditelusuri ternyata itu kuntilanak jadi-jadian buatan manusia untuk menakuti warga sekitar karena ada permasalahan sengketa tanah. Berhasil memecahkan mitos itu, akhirnya komunitas kami semakin dikenal”, kenangnya.

Tidak mudah untuk bergabung menjadi anggota Semarangker. Hal tersebut lantaran setiap calon anggota diberikan magang selama 3 bulan untuk lebih mengenal komunitas. Selain itu harus berkomitmen untuk mengikuti setiap kegiatan yang diadakan. Jika gagal, maka calon anggota dinyatakan gugur.

“Kalau mau jadi anggota ya harus tahu apa sebenarnya komunitas kami, tujuan dan kegiatannya. Bisa dilihat di berbagai media sosial”, tegas Eri.

Masih menurutnya, hambatan yang sering ditemui oleh anggota komunitas Semarangker, terkendala pada perijinan. Setiap tempat angker yang akan digunakan untuk berjelajah harus mendapatkan ijin dari si penjaga maupun pemilik tempat. Jika tidak mendapatkan ijin, kegiatan tersebut akan dialihkan ke tempat lain.

Tak lupa Eri memberikan tips agar kita menjadi pribadi pemberani dalam menyikapi suatu mitos maupun misteri. “Kita jangan takut denga  hal-hal gaib karena akan menimbulkan sugesti. Sugesti berasal dari pikiran, kemudian akan memanipulasi apa yang kita pikirkan. Dan terjadilah sesuatu yang dinamakan ilusi atau halusinasi bahwa apa yang sebenarnya kita lihat adalah apa yang kita pikirkan. Gaib dan kemusrikan itu bedanya tipis maka kita harus pintar dan bijak”, tutup Eri.

Salah satu anggota komunitas, Irfan Naufal menuturkan ketertarikannya bergabung Komunitas Semarangker. Selama menjadi anggota, ia merasa lebih baik dan tidak takut akan hal-hal mistik.

“Saya gabung sudah dari 1 tahun lalu pas anggota Semarangker lagi berjelajah di sekitar Tugu Muda.Saya tertarik dan akhirnya bergabung sampai sekarang. Disini nambah konco nambah sedulur jadi saya suka sama komunitas ini”, pungkasnya

186

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *