Organda ingin rembugan (lagi) dengan Pemkot

(Vedyana Ardyansah/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – ‎Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang Wasi Darono mengatakan, bila angkot dijadikan sebagai kompetitor atau saingan Bus Rapid Transit (BRT), menurutnya pastinya angkot tidak akan mampu bersaing dan bertahan lama. Itu akan mengakibatkan dampak bagi sopir angkot kehilangan mata pencahariannya.

Dia berharap, para pelaku transportasi tidak dijadikan sebagai saingan namun sebagai partner dalam pengoperasian dan pengelolaan BRT.

“Contoh, misalnya pemerintah memanfaatkan sopir angkot sebagai pengemudi BRT. Atau sebagai operator maupun petugas ticketing,” ujarnya, Selasa (7/3).

Pihaknya masih menginginkan pemerintah dan para pengusaha serta supir angkot bisa berdiskusi kembali untuk mencari solusi pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang.

Hal tersebut untuk meredam aksi demo pelaku angkot menolak peluncuran BRT Trans Semarang koridor V dan VI, yang dianggap akan mematikan lahan mencari nafkah mereka.

“Kalau bisa, kami tidak ingin adanya aksi demo terkait penolakan rute baru tersebut besok, Rabu (8/3). Kami inginnya agar persoalan BRT dan para pelaku transportasi angkot dapat diselesaikan bersama,” ucapnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Tri Wibowo menerangkan bahwa pihaknya akan berkomunikasi dengan pemenang lelang terkait akomodir yang dilakukannya agar para supir angkot dilibatkan dalam pengelolaan BRT.

“Namun kami tidak bisa membatalkan lelang operator BRT koridor V dan VI, karena saat ini sudah hampir selesai dan itu sudah wewenang ULP,” terangnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *