Kenalkan Makanan Indonesia Lewat Sate Lilit

(istimewa/ggl)

SEMARANG (asatu.id) – Di tengah maraknya inovasi kuliner dan invasi makanan dari luar negeri, Miki bersama istrinya, Vida dan rekannya Bowo membuka lapak Sate Lilit Made Bowo. Sebelumnya pasangan ini mengelola kedai kopi bernama Gobleg Art and Cafe.

“Usaha kopi makin kesini makin ‘paceklik’ tanpa bisa dipungkiri, perkembangannya sangat cepat. Makanya aku sama Vida dan Bowo mikir-mikir lagi, kira-kira usaha apa yang disini belum ada dan berpotensi menarik banyak pembeli. Akhirnya kepikiran jualan sate lilit itu, jadilah Sate Lilit Made Bowo,” papar Miki.

Nama Made Bowo sendiri bukan berarti ‘made’ sebagai sebutan untuk anak kedua di Bali, melainkan ‘made’ dari bahasa Inggris yang artinya ‘buat’. Bowo dan tim pembuat sate, kira-kira begitulah deskripsi bebas untuk usaha yang sudah berjalan sejak pertengahan Januari 2017 ini.

Meski saat ini bermukim di Mangunsari, Gunungpati, Semarang, Miki sebelumnya pernah tinggal di Bali. Mengikuti kehidupan sosial disana termasuk upacara, menjadi salah satu inspirasinya membuka usaha ini.

“Sate lilit ini salah satu makanan yang jadi bagian ritual upacara disana, sama kaya ingkung kalau di upacara adat Jawa. Selain sate lilit ada juga sambel matah dan plecing kangkung,” lanjutnya.

Untuk sate lilit sendiri jika di Bali berbahan dasar ikan tenggiri, ikan tuna, dan daging babi. Namun karena menyesuaikan kultur disini, Miki mengganti daging babi dengan ayam.

Dalam pengolahan bahan baku, ia mengunakan lebih banyak bumbu pada saat mengolah ikan. Selain untuk membuat bumbu lebih meresap juga untuk menghilangkan bau amis ikan. Sedangkan untuk mengolah ayam, bumbu secukupnya saja agar tidak menghilangkan rasa ayamnya.

“Untuk stok sate siap olah pun aku lebih banyak nyiapin ayamnya karena lebih diminati ketimbang tuna. Ya barangkali karena jarang konsumsi juga atau alergi. Di sini rata-rata adanya ikan air tawar kayak nila, bawal, lele. Trus harganya juga mahal, kalau pas lagi susah tuna bisa sampai Rp 40.000, hari biasa pas banyak ikan Rp 20.000 – Rp 25.000,” kata Miki.

“Sebenarnya bahan baku aslinya tenggiri sih, tapi mahal juga kalau disini. Sementara kalau kita beli bahan cuma dikit, paling satu apa dua kilo, soalnya sekarang cuma buka buat delivery doang, nggak ngelapak seperti biasanya,” tambah Vida.

(istimewa/ggl)

Miki mengaku delivery dan ngelapak cenderung lebih ramai delivery, meski tetap tak bisa diprediksi. Biasanya untuk stok 40 tusuk sate bisa habis dalam tiga hari. Adonan yang ia simpan di freezer juga hanya untuk maksimal satu minggu.

“Ya risiko ngelapak outdoor emang gini, terkendala cuaca. Hujan kalau buat pedagang kadang malah jadi halangan orderan, apalagi lapaknya belum permanen kayak kami ini,” kata Bowo, rekan kerja Miki dan Vida yang sudah ikut bersibuk-ria sejak usaha ini dibuka.

Kebanyakan orang yang datang ke lapak adalah teman-teman dekat, orang yang sudah pernah tinggal di Bali dan sudah pernah makan sate lilit. Ingin nostalgia kuliner lebih tepatnya.

“Ya semoga setelah ini bisa punya lapak tetap. Nggak perlu luas dulu, yang penting ada dapur dan tempat nyimpen bahan baku. Agak susah kalau bolak-balik gini, lokasi lapak sama rumah lumayan jauh. Kalau urusan buka cabang dan lain-lain, wah itu masuknya bonus,” pungkas Miki sambil tertawa.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *