Belum Beroperasi, BRT Koridor V dan VI ‎Sudah Diprotes

Para supir angkutan umum protes dengan adanya BRT koridor V dan VI (Verdyana Ardyansah/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id‎) – Akan diluncurkannya rute baru Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang koridor V dan VI ternyata kurang disetujui Paguyuban Supir Angkutan Umum Kota Semarang. Pasalnya dengan hadirnya rute BRT tersebut, dinilai para supir angkutan umum akan mengurangi pendapatannya.

“Para awak angkutan umum yang datang menyampaikan keberatan berasal dari trayek jalur Kedungmundu, Banyumanik, Tegalwareng, dan Unnes. Kami keberatan adanya BRT karena akan mengurangi penghasilan kami,” ucap koordinator supir angkutan umum Kota Semarang Widodo, saat mendatangi DPRD Kota Semarang, Rabu (1/3).

Dalam audiensinya, para supir ditemui Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono. Pihaknya menyampaikan keluh kesahnya dan aspirasi supir yang lain denga hadirnya BRT koridor V dan VI.

Ia menceritakan, rute Banyumanik-Johar yang selama ini merupakan jalurnya mencari nafkah, dengan dilewati BRT koridor II Terboyo-Sisemut penghasilnya turun drastis. Dari sebelumnya bisa membawa pulang Rp 60-70 ribu sekarang hanya Rp 10-30 ribu.

“Kadang malah hanya dapat satu tangkap, cuman dapat Rp 13 ribu,” ungkapnya.

Pihaknya berharap pemerintah kota meninjau kembali BRT koridor V dan VI, supaya keberadaan para awak angkutan umum tetap terjamin bisa mendapatkan penghasilan yang stabil.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan, tentunya pemerintah harus memperhatikan kondisi transportasi publik yang sudah ada di rute yang akan dilewati sebelum meluncurkan BRT.

“Harus ada solusi apakah angkutan umum itu akan dijadikan konsorsium (yang mengelola BRT) atau dijadikan angkutan feeder atau pengumpan, atau bentuk lainnya,” katanya.

Menurutnya, pemerintah harus mengkaji secara menyeluruh seperti rute, jumlah armada, dan lainnya sebelum meluncurkan koridor baru. Juga dampak terhadap angkutan umum yang sudah ada sebelum BRT tersebut.

“Jika peluncuran BRT menurunkan bahkan mematikan kesejahteraan pengemudi angkutan umum, maka berarti filosofi pengadaan transportasi BRT tidak tercapai,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *