Belajar BK Asyik bersama Bu Yulia

(Arind Reza/asatu.id)

SEMARANG (asatu.id) – Suasana belajar yang menyenangkan meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran. Itu yang berusaha diterapkan Yulia Nur Anggraeni, guru Bimbingan Konseling (BK) di SD Labschool Unnes.

Salah satu contohnya seperti yang dilakukannya, Kamis (2/3) siang, dengan menyampaikan betapa pentingnya menggosok gigi kepada peserta didik kelas V B melalui media video.

“Materi yang saya sampaikan tentang menjaga kebersihan diri, salah satunya menggosok gigi. Hal ini mudah tetapi kadang anak tidak tahu apa alasannya. Dengan jam pelajaran BK yang sedikit, saya berusaha menyampaikan informasi yang mereka perlukan dengan menarik tetapi mereka tetap mengenal saya dan teman-temannya,” katanya.

Selain menyampaikan pentingnya menggosok gigi kepada peserta didiknya, Yulia, begitu sapaan akrabnya, seminggu lalu juga menyampaikan tentang pentingnya mencuci tangan.

“Kadang anak bertanya kenapa kita harus melakukan ini dan itu ‘kan, setelah berlatih langsung atau menonton video saya harap mereka akan paham. Oh saya melakukan ini karena penting, selebihnya urusan pembiasaan aja sih,” lanjutnya.

Selain belajar asyik dengan media video, Yulia juga mengajak peserta didiknya berkonsultasi melalui layanan penguasaan konten sebagai sarana penyaluran bakat yang mereka miliki.

“Program ini membantu kita melihat bakat anak, untuk selanjutnya kita salurkan melalui kegiatan kreatif atau pelajaran lainnya. Basic saya guru BK SD, sementara tak semua kurikulum sekolah memilikinya. Jadi saya berusaha menemukan standar kemandirian anak yang bisa saya terapkan agar mereka paham,” katanya.

Ia juga menambahkan dari berjam-jam anak menonton TV di rumah pun harus ada yang mereka pelajari, tak hanya menghabiskan waktu tapi menguap sia-sia.

Mengajar BK sejak 2014 di sekolah tersebut membuat Yulia kaya akan pengalaman menghadapi berbagai karakter anak yang beragam. Termasuk anggapan bahwa guru BK adalah ‘polisi sekolah’.

“Saya berusaha menepis anggapan itu dengan menyampaikan kepada anak-anak, kalau mereka ada apa-apa mereka bisa cerita ke saya, langsung atau lewat surat kalau malu. Dengan begitu mereka akan belajar lebih mandiri dan punya etika yang jauh lebih baik. Ketika menerima pelajaran di kelas pun, semoga bisa lebih mudah, tak hanya lewat tapi ada pengetahuan yang diserap,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *