Ken dan Teman Baca: Berbosan-bosan Dahulu, Berteman Banyak Kemudian

Perpustakaan Teman Baca di Ruang Mousike (istimewa/ig RM)

SEMARANG (asatu.id) – Masa SMA adalah masa sekolah paling indah. Pernah dengar ungkapan ini ? agaknya sedikit banyak ungkapan ini benar. Pasalnya, di bangku kuliah yang jadwal masuknya tak sepadat masa SMA, tak jarang membuat mahasiswa bosan, bahkan ada pula yang bolos atau hanya rajin kuliah di awal semester saja.

Hal ini juga yang dirasakan Ken Kausar. Mahasiswa prodi Sastra Indonesia Unnes angkatan 2013 ini mengaku bosan kuliah lantaran sepi dari geliat literasi dan aktivitas sastra.

“Ya sebenarnya ndak masalah sih kalau anak sastra ndak ada kegiatan sastra, tapi kalau sudah jadi ‘santapan’ tiap hari dalam rangka belajar kok ndak diobrolkan lebih serius kan ya wagu,” ujar laki-laki kelahiran 9 Februari 1995 ini.

Tak hanya Ken yang merasa bosan, Gunawan Budi Susanto, salah seorang dosen jurusan Bahasa dan Sastra Jawa di Unnes pun juga merasakan kegelisahan yang sama, kampus berprodi sastra namun ‘mati suri’ sastranya.

Sosok yang lebih akrab disapa Kang Putu ini bercerita pada Ken tentang keinginannya membentuk semacam klub baca atau klub buku di kampus dalam rangka ‘membangunkan’ sastra yang tertidur panjang.

“Iya, Kang Putu pengen bawa buku ke kampus terus digelar gitu biar dibaca sama anak-anak (kampus). Dari obrolan dengan beliau itu aku malah terbersit soal perpustakaan, yaudah akhirnya terbentuk Perpustakaan Swadaya Teman Baca,” lanjut Ken.

Perpustakaan ini ‘ngelapak’ tiap Senin dan Kamis di Gazebo B1 FBS, Unnes sejak perkuliahan dimulai sampai maghrib menjelang.

Selain obrolan dengan Kang Putu yang akhirnya menginspirasi terbentuknya Teman Baca, Aan Mansyur, salah seorang penulis asal Makassar juga turut menginspirasi Ken.

Melalui salah satu catatannya di media sosial (medsos), Aan berbagi cerita tentang perpustakaan punggung yang dilakukannya di kampus. Ia membawa buku dalam tas punggungnya kemudian sesampainya di kampus ia pinjamkan buku-buku tersebut kepada teman-temannya.

Bermodal buku-buku yang dibawa, Aan berbagi dan ngobrol dengan banyak teman. Akhirnya sekarang terbentuk perpustakaan di Makassar bernama Katakerja. Perpustakaan semacam ini bisa untuk memanfaatkan ruang publik untuk aktivitas yang lebih baik.

Menurutku ide ini menarik karena di perpustakaan, apalagi perpustakaan komunitas, bisa mempertemukan orang-orang dengan beragam ide dan lintas disiplin ilmu dengan kesadaran bahwa kebiasaan membaca itu harus dibagi. Dan yang pasti, hal ini membuat saya senang,” ujar lelaki hitam manis ini sambil tersenyum.

Keputusan Ken menjatuhkan pilihan untuk membuka perpustakaan di zaman serba digital ini bukan tanpa alasan. Tanggung jawabnya sebagai mahasiswa sastra, secara tak langsung membuatnya harus gemar membaca. Apalagi sudah era modern begini, tentu perkembangannya sangat cepat.

“Jumlah karya sastra itu banyak sekali, apalagi kalau sudah membahas sastra dunia. Jadi memang kudu diupgrade terus, diupdate selalu. Di lain sisi, ada sedikit romantisme masa kecilku disini, karena memang dari kecil suka baca tapi belum bisa beli sendiri karena faktor ekonomi dan lainnya. Ya semacam balas dendam yang menyenangkan gitu lah,” paparnya.

Ken menambahkan bahwa dari karya sastra kita bisa melihat beragam jenis manusia dengan beragam ideologi dan pola pikir. Bagaimana mereka memandang dan menyikapi kehidupan dengan cara yang menyenangkan.

Seiring waktu, lapak yang semula berada di gazebo dan hanya memilki sedikit koleksi buku ini sekarang sudah bertambah koleksinya mencapai ratusan buku dan beralih ke Ruang Mousike milik seorang dosen Seni Musik Unnes, Usman Wafa.

Kepindahan ini dikarenakan musim hujan yang tak baik untuk kelangsungan kegiatan baca-baca di gazebo yang cenderung ruang terbuka.

“Sebenarnya enak di gazebo karena dekat dengan kampus dan kantin, bisa ngutang kopi juga ‘kan ya. Tapi kasihan buku-bukunya kalau pas hujan, ada yang belum disampuli juga. Jadi daripada kenapa-napa, move kesini. Selain itu, di gazebo harus dibawa pulang kalau mau baca sampai kelar, kalau disini bisa baca sepuasnya,” promo Ken.

Ken Kausar inisiator perpustakaan Teman Baca (istimewa/fb ken)

Buku-buku koleksi Teman Baca ini mayoritas adalah milik pribadi, sumbangan teman, dosen, dan rekan-rekan yang support dengan kegiatan ini. Tapi mayoritas memang milik Ken, karena nama tengah Teman Baca memang swadaya, tambah Ken.

Ruang Mousike sebagai ‘rumah’ bagi Teman Baca pun tak terbatas sebagai perpustakaan semata, beragam kegiatan bisa digelar disini. Perwujudan Ruang Mousike ini memang karena Pak Usman juga memiliki kegemaran sama seperti Ken pada bidang literasi. Namun tak membuat beliau membatasi aktivitas yang dilakukan. Apapun boleh asal positif.

Keberadaannya yang membaur dengan pemukiman warga dan aktivitas yang sering digelar sampai jauh malam sejak resmi dibuka akhir Oktober 2016 lalu ternyata justru mendapat apresiasi yang baik dari warga sekitar, tak jarang mereka ikut berpartisipasi di acara yang digelar di Ruang Mousike.

“Sejak awal kami tak berniat mengganggu warga, jadi ya sejauh ini tak pernah diprotes,vdamai dan nyaman saja. Lagi pula kalau letaknya di tepi jalan, pasti kalah saing dengan suara bising kendaraan yang lalu-lalang,” ujar Ken.

Kerukunan memang tampak antara penghuni Ruang Mousike dengan warga masyarakat sekitar. Seperti saat sore hari, ketika seorang warga setempat panen buah rambutan, para penghuni Ruang Mousike yang berada disitu dipersilahkan menikmati.

“Ya semoga saja ke depan terus nyaman seperti ini. Teman Baca dan Ruang Mousike bisa jadi tempat asyik untuk baca buku, ada grup diskusi sambil ngopi, sambil nulis, sambil adu argumen dari apa yang dibaca. Siapapun dari disiplin ilmu apapun bisa bertemu di satu wadah, saling timbal-balik positif,” katanya.

Dirinya menambahkan, bagi siapapun yang ingin lebih kenal atau lebih dekat bisa kontak ke akun @ruangmousike. Hingga kini, akun tersebut jumlah followernya didominasi kaum wanita hampir 70%.

“Followernya yang cewek musik cantik-cantik, makanya aku betah disini,” pungkas Ken sambil tertawa.

138

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan