Wali Kota Semarang Mediasi Permasalahan di MTs AL-Wathoniyyah

SEMARANG (asatu.id) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan bahwa persoalan Ijasah bernama Ahmad Zulfikar Fauzi siswa MTs AL-Wathoniyyah yang menyababkan tertundanya pengambilan ijasah dari tahun 2012 dan kurangnya biaya administrasi hingga Rp 30 juta itu murni Miss komunikasi antara wali murid dengan pihak sekolah MTs AL-Wathoniyyah Kota Semarang.

Wali Kota menceritakan, bahwa sebelumnya pihak wali murid dari Ahmad Zulfikar Fauzi melapor kepadanya terkait belum diserahkannya ijazah tersebut kepada yang bersangkutan karena tunggakan administrasi sekolah yang mencapai Rp 30 juta.

Setelah pihaknya melakukan mediasi dengan pihak wali murid dan Kepala Sekolah MTs AL-Wathoniyyah, akhirnya permasalahan terselesaikan dengan diberikannya ijazah kepada anak yang tergolong difabel tersebut secara gratis.

“Setelah bertemu tadi bersama dengan wali murid dan Kepala Sekolah Mts AL-Wathoniyyah Kota Semarang, menyampaikan bawa tunggakannya tidak sampai 30 juta, tunggakanya cuma bernilai sebesar Rp. 871.500,” ujar pria yang akrab disap Hendi ini, Senin, (27/2).

Menurutnya, kejadian tertundanya ijazah seperti ini menjadi pembelajaran bersama. Pihaknya menilai pemberian bantuan bagi siswa yang kurang mampu dalam menyelesaikan administrasi sekolah sangat diperlukan.

“Kami merasa bahwa Dinas Pendidikan Kota Semarang mempunyai anggaran beasiswa bagi warga anak yang kurang mampu untuk sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah MTs AL-Wathoniyyah Kota Semarang, Kasno mengungkapkan bahwa selama ini banyak wali murid yang miss komunikasi dengan pihak sekolah.

“Kami sering melakukan pengecekan administrasi, lalu memberitahukan kepada siswa agar disampaikan kepada orangtuanya, numun terkadang itu tidak disampaikan atau malah anak sudah diberikan uang namun tidak sampai ke sekolah,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk permasalahan Ahmad Zulfikar Fauzi ini, dia mengatakan yang bersangkutan belum melakukan cap tiga jari untuk Ijazahnya. Sehingga petugas sekolah tidak memberikan ijazah tersebut.

“Kemungkinan pengurus kami tidak melihat bahwa Ijazah tersebut sudah dicap tiga jari atau belum, dan administrasi yang kurang hanya Rp. 871.500,- saja, tidak sampai 30 juta,” tukasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *