Mbah Djoni, Dukun Kebanggaan Dunia Fotografi Semarang

Mbah Djoni, Dukun Kebanggaan Dunia Fotografi Semarang

Mbah Djoni Dukun Kamera (Joy Tevin/asatu.id)

SEMARANG (Asatu.id) – Kecintaan Djoni Santoso (61) pada kamera mendorongnya tak henti untuk berkreasi. Di rumahnya di Karangwulan Sari II/18, Semarang, yang juga sebagai studio tempatnya berkarya, dipajang rak lemari berisi ratusan kamera bekas dari berbagai merek dan tahun.

Saat ditemui asatu.id dikediamannya, Kamis (23/2), pria kelahiran Pekalongan, 13 Juli 1956 ini menyambut dengan ramah serta tak sungkan menuturkan kisah perjalanan karirnya sebagai seorang fotografer.

“Saya pindah ke Semarang itu kira-kita tahun 1970. Kemudian beruntunglah saya bertemu dengan Koo Lian Bie, ahli reparasi kamera yang terkemuka saat itu, dan beliau mau mengajari saya tentang dunia fotografi,” ringkas ceritanya saat berbincang-bincang dengan asatu.id di studionya.

Pria berperawakan besar, dengan rambut gondrong dan berewok panjang ini menambahkan, awal mula dirinya memulai dunia profesional fotografi dimulai tahun 1976, walaupun pada saat itu dirinya sudah memegang kamera sejak umur 11 tahun.

“Dari situ saya lalu mulai kebiasaan mengumpulkan kamera pada tahun 1982, dan saat itu saya masih berprofesi sebagai tukang reparasi kamera,” imbuhnya.

Mbah Djoni, Dukun Kebanggaan Dunia Fotografi SemarangBerbekal minat dan semangat yang kuat selama enam tahun Djoni membantu Lian Bie sembari belajar mereparasi kamera, perlahan-lahan dirinya dapat berdiri sendiri dan mendirikan Pustaka Kamera Classic di rumahnya.

Alhasil, usahanya sedikit demi sedikit berhasil dan mulai kebanjiran pelanggan termasuk dari para wartawan dan fotografer yang ingin mereparasi kamera maupun belajar fotografi.

Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Dukun Kamera tersebut mengungkapkan, kamera paling tua yang dimilikinya adalah kamera berbahan kayu buatan Inggris sekitar tahun 1900. Kamera tersebut masih menggunakan film ukuran 18 x 24 milimeter dan hingga kini masih dapat difungsikan.

Hingga kini Djoni tetap menjadi teman favorit fotografer di Semarang dan kota- kota lain untuk berbagi ilmu dan pengalaman. “Sampai sekarang saya masih gemar mengumpulkan kamera selain sebagai profesi juga sebagai investasi saya,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *